Tulungagung, Jatimmandiri.id — Ancaman si jago merah di kawasan hutan dan lahan (Karhutla) Kabupaten Tulungagung kian mengkhawatirkan.
Sepanjang Januari hingga pertengahan Oktober 2026, tercatat sudah ada 46 kasus kebakaran yang melanda wilayah ini, dengan lonjakan paling tajam terjadi dalam dua bulan terakhir.
Berdasarkan pemetaan petugas, puluhan insiden tersebut mayoritas menyasar kawasan Perhutani, lahan tebu, hingga area rumpun bambu.
Pihak berwenang menduga kuat bencana ini dipicu oleh aktivitas pembakaran terbuka yang dilakukan sembarangan, baik untuk membuka lahan baru maupun pembersihan sampah yang akhirnya tak terkendali.
Kasi Operasional dan Pemadaman Damkarmat Tulungagung, Bambang Pidekso, mengungkapkan bahwa eskalasi kebakaran hutan dan lahan menunjukkan tren kenaikan yang signifikan menjelang akhir musim kemarau ini.
“Sejak Januari sampai pertengahan Oktober 2026, ada 46 kasus karhutla di Tulungagung. Dua bulan ini jumlahnya justru meningkat,” kata Bambang, Selasa (20/10/2026).
Kondisi cuaca kering diperparah tiupan angin membuat vegetasi mudah tersulut api dalam sekejap.
Situasi ini kian memprihatinkan menyusul insiden tragis pada Selasa (6/10/2026) lalu, di mana seorang perempuan lanjut usia berinisial KT (74) di Kecamatan Pagerwojo tewas setelah tubuhnya tersambar api saat membakar tumpukan daun jati kering di lahannya sendiri.
Mengacu pada prediksi BMKG bahwa musim hujan baru akan merata pada pertengahan Desember mendatang.
Merespons hal ini, Damkarmat secara tegas meminta masyarakat untuk menghentikan segala bentuk aktivitas pembakaran terbuka demi menghindari jatuhnya korban jiwa susulan.
“Potensi kebakaran hutan dan lahan masih mungkin terjadi hingga awal Desember. Apalagi musim hujan diprediksi terjadi pada pertengahan Desember,” pungkasnya.












