Surabaya, Jatimmandiri.id – Sebanyak 100 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Jawa Timur ditargetkan masuk platform perdagangan global Alibaba dalam setahun. Langkah ini menjadi bagian dari kerja sama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Surabaya dan Kadin Jatim bersama Alibaba untuk membuka akses ekspor bagi produk lokal.
Target tersebut disampaikan Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto dalam workshop bertajuk Bring East Java Products to 200 Countries Worldwide di Graha Kadin Jatim, Surabaya, Rabu (2/9/2026).
“Nantinya, seluruh produk UMKM yang hadir akan dikurasi oleh Kadin terlebih dahulu dan selanjutnya oleh Alibaba. “Target Kadin, ada sekitar 100 UMKM yang on boarding di platform Alibaba selama satu tahun atau sekitar 8-10 UMKM dalam satu bulan,” tukasnya.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan produk melalui platform digital, tetapi juga membekali pelaku usaha dengan pengetahuan ekspor. Indonesia Country Manager Alibaba Ryan Liu mengatakan pihaknya ingin membantu UMKM memahami pasar internasional sekaligus menyiapkan produk sesuai kebutuhan pembeli global.
“Ketika kami datang ke Surabaya, kesan pertama kami adalah Surabaya merupakan kota yang sangat dinamis dan energik, dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Kami juga melihat banyak produk unggulan, seperti makanan dan minuman, biji kopi, produk kayu, hingga furnitur,” kata Ryan.
Menurut Ryan, sebagian pelaku usaha Surabaya telah berhasil memasuki pasar Amerika Serikat dan Eropa. Namun, masih banyak UMKM potensial yang belum memiliki pengetahuan maupun akses untuk berhubungan dengan pembeli internasional.
Karena itu, Alibaba menyiapkan dua agenda, yakni memperkenalkan mekanisme pasar global melalui platformnya serta membangun pendidikan ekspor internasional bersama mitra lokal di Surabaya.
“Kami berada di sini untuk melakukan dua hal. Pertama, memahami pasar global melalui Alibaba. Kedua, kami akan meluncurkan inisiatif baru bersama partner untuk mengembangkan pendidikan ekspor internasional di Surabaya dan memperkenalkan produk-produk Surabaya ke pasar global,” ujarnya.
Pendampingan akan melibatkan channel partner yang membantu UMKM mempersiapkan produk, memahami karakter pasar, dan memenuhi kebutuhan calon pembeli luar negeri. Alibaba, kata Ryan, merupakan platform B2B yang sejak berdiri pada 1999 berkembang dengan jaringan lebih dari 200 negara dan kawasan, sekitar 50 juta pembeli, serta lebih dari 200 ribu pemasok.
“Alibaba sebenarnya lahir dari bisnis ekspor. Sejak didirikan pada 1999, Alibaba telah berkembang menjadi platform B2B terkemuka. Saat ini kami menjangkau lebih dari 200 negara dan kawasan, dengan sekitar 50 juta pembeli dan lebih dari 200 ribu pemasok di seluruh dunia,” jelasnya.
Kadin Jatim menilai akses tersebut dapat menjadi kesempatan bagi UMKM untuk memahami standar produk yang dibutuhkan pasar internasional. “Ini kan sudah go global, tentunya UMKM harus belajar, kualitas di global seperti apa. Dan Alibaba ini ada edukasi terkait kualitas serta kepastian jumlah barang,” kata Adik.
Wakil Ketua Kadin Surabaya Medy Prakoso menambahkan, Alibaba memiliki sejumlah fasilitas yang dapat mendukung transaksi ekspor, mulai dari penjaminan pembayaran, kurasi produk hingga akses pasar.
“Alibaba ini memiliki beberapa produk yang bagus, di antaranya penjaminan pembayaran, kurasi produk yang akan dipasarkan untuk ekspor, serta akses pasar. Ini semua menjadi trigger untuk mendorong perdagangan Surabaya ke luar negeri,” ujarnya.
Produk hortikultura, kriya, dan furnitur dinilai memiliki peluang dikembangkan ke pasar internasional. Namun, pelaku usaha harus memastikan legalitas dan perizinan telah lengkap sebelum masuk ke pasar ekspor.
“Beberapa produk UMKM Surabaya yang potensial di antaranya produk horti, kriya, dan furnitur. Semua produk itu bisa dikembangkan untuk ekspor selama perizinan dan legalitasnya sudah tuntas,” katanya.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim Endy Alim Abdi Nusa juga mendorong UMKM tidak berhenti mengandalkan pasar lokal. Menurut dia, sejumlah pelaku usaha Jatim telah berhasil membawa produknya ke mancanegara.
“Kalau memungkinkan, jangan hanya menjadi pemain di pasar Surabaya atau Jawa Timur. Manfaatkan platform ini seperti yang sudah dilakukan teman-teman yang berhasil masuk ke pasar luar negeri,” kata Endy.
Endy menyebut UMKM berperan besar terhadap perekonomian Jawa Timur, dengan kontribusi sekitar 60 persen terhadap total PDRB Jatim. Karena itu, pemerintah terus membuka akses pasar melalui misi dagang antardaerah dan kerja sama dengan platform perdagangan global.
Kolaborasi dengan Alibaba diharapkan menjadi alternatif baru bagi UMKM Jatim untuk mendapatkan pembeli dari luar negeri. Dengan dukungan digital dan pendampingan ekspor, produk lokal diharapkan mampu bergerak dari pasar domestik menuju rantai perdagangan global.












