Intisari Berita:
Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, menegaskan pentingnya penguatan kompetensi ASN untuk menopang Malang Raya Megapolitan dan Koridor Selatan Jatim.
Paradigma pelatihan ASN didorong bergeser dari supply driven menjadi demand driven berbasis potensi dan karakteristik kewilayahan.
Empat kompetensi utama ASN masa depan disiapkan untuk mewujudkan ekosistem ekonomi terintegrasi hingga tahun 2045.
Malang, Jatimmandiri.id — Penguatan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) dinilai menjadi pilar utama dalam mempercepat terwujudnya kawasan Malang Raya Megapolitan sekaligus memantik kebangkitan Koridor Selatan Jawa Timur sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. ASN dituntut bertransformasi dari sekadar fungsi administratif menjadi penggerak inovasi dan kolaborasi daerah.
Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) III Malang, Asep Kusdinar, saat menjadi narasumber dalam agenda Fasilitasi Perencanaan Pengembangan Kompetensi Kampus Satelit Tahun 2026 yang digelar Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Timur di Kantor Bakorwil Malang, Rabu (22/7/2026).
Asep menggarisbawahi bahwa pola pelatihan ASN saat ini harus bergeser dari pendekatan supply driven (sekadar mengikuti pelatihan yang ada) menjadi demand driven yang berpatokan pada kebutuhan riil pembangunan daerah.
“Pembangunan kawasan tidak mungkin berjalan optimal tanpa ASN yang memiliki kompetensi yang tepat. Pengembangan kompetensi harus disusun berdasarkan kebutuhan organisasi, potensi wilayah, dan tantangan pembangunan sehingga melahirkan ASN yang adaptif, kolaboratif, serta berorientasi pada hasil,” ujar Asep Kusdinar.
Integrasi Malang Raya Megapolitan dan Koridor Selatan Jatim
Asep memaparkan bahwa wilayah kerja Bakorwil III Malang memiliki bentang karakteristik yang sangat kompleks, mulai dari kawasan urban metropolitan, pusat pendidikan, industri kreatif, pariwisata, hingga pesisir pantai selatan. Keragaman ini menuntut kesiapan kapasitas ASN yang berbeda di tiap-tiap daerah.
Untuk mendukung keberhasilan Malang Raya Megapolitan (Kota Malang, Kota Batu, Kabupaten Malang, dan area penyangga), ASN dituntut memiliki wawasan luas yang menembus sekat-sekat administratif (collaborative governance).
Sementara itu, untuk percepatan Koridor Selatan Jawa Timur, kesiapan infrastruktur seperti Jalan Lintas Selatan (JLS) wajib diimbangi dengan keandalan ASN dalam memfasilitasi investasi dan mengawal hilirisasi produk lokal.
“Malang Raya Megapolitan membutuhkan ASN yang mampu berpikir lintas batas administrasi dan mengorkestrasi kolaborasi. Sedangkan di Koridor Selatan, ASN harus mampu memfasilitasi investasi, memberdayakan UMKM, dan menghubungkan potensi lokal menjadi ekosistem ekonomi yang saling menguatkan,” terangnya.
4 Kompetensi Utama ASN Masa Depan
Asep merinci sedikitnya empat kompetensi mendasar yang wajib dimiliki oleh para aparatur pemerintah dalam menghadapi era transformasi:
-
Kemampuan Analisis Kebijakan: Andal dalam merumuskan regulasi yang berorientasi solusi.
-
Literasi Digital dan Data: Memahami pemanfaatan data untuk pelayanan publik modern.
-
Kolaborasi Lintas Sektor: Mampu membangun sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
-
Integritas dan Adaptabilitas: Memiliki mental tangguh serta fleksibel menghadapi perubahan.
Langkah ini sejalan dengan inisiatif Konsorsium AKSES (Akselerasi Kawasan Selatan-Selatan Jawa Timur) yang digagas Bakorwil Malang guna mengawal peta jalan pembangunan Koridor Selatan menuju tahun 2045.
“ASN tidak boleh hanya menjadi administrator, melainkan harus menjadi economic driver dan katalis pembangunan kawasan. Ketika kompetensi ASN dibangun sesuai kebutuhan wilayah, Malang Raya Megapolitan akan semakin kompetitif dan Koridor Selatan Jatim tumbuh inklusif,” pungkas Asep.












