Sidoarjo, Jatimmandiri.id – Jalur utama penghubung Sidoarjo menuju Surabaya lumpuh total sejak Rabu siang (30/9/2026).
Kemacetan mengular hingga berkilometer-kilometer ini terjadi akibat gelombang aksi unjuk rasa ratusan sopir yang tergabung dalam Gerakan Sopir Jawa Timur (GSJT).
Tak kurang dari 250 armada, mulai dari truk fuso, colt diesel, hingga truk towing, merayap dalam konvoi raksasa yang memenuhi seluruh badan jalan.
Massa pengemudi bergerak secara bergelombang dari titik kumpul di Pasar Induk Puspa Agro, Jemundo, menuju perbatasan kota.
Aksi ini digelar sebagai bentuk protes menuntut penghapusan kewajiban penggunaan barcode (QR Code) untuk pembelian BBM Biosolar bersubsidi.
Aturan digitalisasi tersebut dinilai membelenggu dan mengganggu operasional harian armada logistik.
Ketua GSJT, Supriyadi (44), menegaskan bahwa penerapan sistem barcode di SPBU sudah berada di tahap yang sangat membebani nasib para sopir logistik akibat kendala teknis aplikasi yang kerap eror.
“Kami terpaksa turun ke jalan dengan 250 truk karena aspirasi kami selama ini tidak pernah didengar. Aturan wajib barcode untuk Biosolar subsidi ini sangat menyulitkan operasional kami di lapangan,” tegas dia.
Menurut Supri, sering kali sistem QR Code eror. Lalu, tak jarang kuota tiba-tiba habis terpakai orang lain, atau proses verifikasinya memakan waktu berjam-jam di SPBU.
Akibatnya, pengiriman logistik terlambat hingga pendapatan sopir habis hanya untuk mengantre BBM.
“Tuntutan kami satu dan mutlak, hapus sistem barcode Biosolar untuk armada angkutan barang demi kelestarian hajat hidup kami,” cetus Supriyadi.
Guna mengurai penumpukan kendaraan yang kian parah, jajaran kepolisian bergerak cepat memutar otak dengan menerapkan rekayasa lalu lintas darurat.
Kendaraan roda dua dan mobil pribadi langsung dialihkan menjauh dari jalur utama serta koridor frontage road.
Merespons lumpuhnya jalur logistik nasional tersebut, Kanit Gakkum Satlantas Polresta Sidoarjo, Iptu Januadi, menyatakan bahwa pihak kepolisian fokus melakukan pengamanan jalur darurat agar eskalasi unjuk rasa tidak memicu konflik horizontal dengan pengguna jalan lain.
“Kami menurunkan personel gabungan penuh untuk mengawal aksi konvoi rekan-rekan GSJT dari titik Puspa Agro. Karena volume kendaraan truk yang sangat besar mengepung jalur Taman hingga Waru, arus lalu lintas menuju Surabaya sempat kami alihkan ke jalur alternatif melalui Krian dan Sepanjang untuk mengurangi beban penumpukan kendaraan. Kami mengimbau perwakilan massa aksi untuk tetap tertib koridor hukum dan segera membuka satu lajur darurat agar tidak menghentikan total roda perekonomian dan mobilitas masyarakat umum yang bekerja,” pungkas Januadi.












