Rembang, Jatimmandiri.id – Pihak Desa Candimulyo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang mengambil langkah terkait hilir mudik truk tambang yang memicu keresahan, terlebih setelah ada kejadian warga terserempet truk.
Kepala Desa Candimulyo, Kecamatan Sedan, Akhmad Zaenuri, menjelaskan bahwa pihaknya sudah memasang papan imbauan di titik-titik menuju jalan desa, supaya tidak dilalui truk tambang, baik kondisi kosong maupun bermuatan.
“Papan imbauan itu bertuliskan, mohon maaf jalan ini bukan jalan tambang. Kita ketuk kesadaran para sopir, karena kami menindaklanjuti keluhan dari masyarakat. Kita pasang di arah Dusun Tegalempar dan Dusun Koplok,” tuturnya, Jumat, 12 Juni 2026.
Ia mengamati ada papan imbauan yang sudah hilang. Nantinya pihak desa siap memasang lagi, karena tujuannya baik. Yakni, demi kenyamanan bersama.
Mengingat di jalan arah Desa Candimulyo terdapat 2 SDN dan 2 TK, sedangkan lalu lalang truk tambang masih terjadi, maka pihak des menyerukan truk tambang melewati jalur khusus tambang, yang sebelumnya memang sudah ada.
“Di sebelah barat dan timur Desa Candimulyo, itu sudah ada jalur khusus truk tambang, monggo dipakai. Biasanya truk tambang masuk kampung, karena ingin lebih dekat atau semacam potong kompas,” beber Kades.
“Tapi kalau truk kosong, rumahnya sekitar situ, mau pulang ya ndak apa-apa lewat, silakan. Bukan kita melarang total gitu nggak,” imbuhnya.
Selain itu, kalau truk tambang tetap melintas di jalan dalam perkampungan, maka dampaknya mempercepat kerusakan jalan.
“Alhamdulilah, sudah banyak sopir truk yang mematuhi. Semoga mereka mau memahami keinginan masyarakat,” ujarnya.
Tak sekadar kerawanan jalan rusak. Menurutnya, menjaga keberadaan mata air adalah alasan paling pokok.
Menyusul semakin sulit mencari sumber air di Dusun Tegalempar dan Dusun Koplok, dua lokasi yang paling dekat dengan area tambang.
“Kita sudah bangun telaga atau embung, itu masih ada airnya. Ukuran 67 x 53 meter untuk daerah resapan air, biar kita nggak kekurangan sumber air. Sudah ada contohnya, Dusun Koplok dan Tegalempar, sumber airnya banyak yang mati. Air kita kirim dari dukuhan yang lain melalui pipa. Ke Tegalempar 2.500 meter, ke Koplok 2.000 meter,” terang Zaenuri.
Disinggung soal pemilik tambang di perbukitan Desa Candimulyo, Kades mengaku tidak tahu menahu.
“Kita nggak pernah diajak koordinasi. Jadi kita juga nggak mau tahu tambang itu milik siapa, pengelolanya siapa,” pungkas Kades.












