Edu-Life & Sport

Sakuranesia Perkuat Jembatan Budaya Indonesia-Jepang

×

Sakuranesia Perkuat Jembatan Budaya Indonesia-Jepang

Sebarkan artikel ini
Kebersamaan lintas budaya, lintas agama yang terjalin sangat indah.
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id – Yayasan Sakuranesia terus memperkuat harmonisasi budaya hingga agama antara Indonesia-Jepang melalui gagasan “Menenun Harmonisasi” dalam rangkaian kegiatan ke Masjid Istiqlal hingga napak tilas di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Founder Yayasan Sakuranesia Tovic Rustam dalam keterangannya di Jakarta pada Selasa (21/07) seperti dikutip dari Antara, mengatakan bahwa  ide “Menenun Harmonisasi” lahir dari keyakinan terkait perbedaan budaya, agama, dan tradisi bukan sebagai penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan bersama.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

“Seperti sebuah tenunan, setiap benang memiliki warna dan karakter yang berbeda. Ketika dirajut dengan rasa saling menghormati, kepercayaan, dan tujuan kemanusiaan yang sama, perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan. Kami berharap semangat ini dapat terus mempererat persahabatan masyarakat Indonesia dan Jepang serta menjadi inspirasi bagi hubungan antarmanusia di berbagai belahan dunia,” ujar Tovic.

Sementara itu, Chairman Yayasan Sakuranesia Sakura Ijuin mengatakan, budaya merupakan bahasa universal yang mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan untuk saling mengenal, memahami, dan membangun persaudaraan. Semangat inilah yang kami harapkan terus tumbuh melalui hubungan Indonesia dan Jepang,” ujarnya.

Kunjungan merawat harmonisasi budaya tersebut juga diikuti oleh rombongan dari Kuil Mii-dera, Jepang, yang dipimpin oleh Kepala Kuil Mii-dera ke-164 (Onjo-ji) Prefektur Shiga Jepang, Toshihiko Fuke. Selama di Indonesia, rombongan juga mengunjungi Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Jakarta Selatan, ke Masjid Istiqlal serta menghadiri tradisi Sedekah Bumi serta Jolenan di Desa Kemetul, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Toshihiko Fuke menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berdialog dan saling mengenal lebih dekat dengan masyarakat Indonesia.

“Meski Buddha memiliki banyak aliran, ada satu hal yang sama, yaitu perdamaian. Saya mengharapkan perdamaian bagi diri sendiri, bagi kalian semua, dan bagi semua negara,” kata Toshihiko.

Baca Juga  BRIDA Surabaya Ubah Sampah Plastik Mangrove Menjadi Bahan Bakar Lewat Teknologi Pirolisis

Perwakilan Yayasan Sakuranesia, Toshihiko Fuke, mengaku terkesan saat menyaksikan tradisi Jolenan di Desa Kemetul, Kabupaten Semarang. Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam menjaga warisan budaya menjadi pengalaman yang berharga.

“Kami senang sekali datang ke sini. Di Jepang, tradisi seperti ini juga ada, meskipun bentuknya sedikit berbeda,” ujarnya. Kunjungan tersebut tidak hanya bertujuan mempererat persahabatan Indonesia-Jepang, tetapi juga memperkuat dialog lintas agama, kebudayaan, spiritualitas, serta penghormatan terhadap alam sebagai fondasi hubungan kedua negara.

Rangkaian kunjungan dilanjutkan ke Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah. Pengasuh pesantren sekaligus Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Said Aqil Siroj, menegaskan bahwa Islam yang diajarkan di pesantrennya menjunjung tinggi toleransi dan nilai-nilai kemanusiaan.

Ia juga mengajak masyarakat Indonesia meneladani Jepang yang tetap menjaga identitas budaya di tengah kemajuan teknologi. “Kita coba lihat orang Jepang. Walaupun teknologinya maju, tetapi mereka tetap kuat memegang budaya. Pakaian, lagu-lagu, tari-tarian tetap asli Jepang. Kita, orang Indonesia, jangan sampai kehilangan jati diri hanya karena ingin terlihat modern,” katanya.

Kunjungan kemudian ditutup dengan silaturahmi kepada GBPH Prabukusumo dan dilanjutkan ke Candi Borobudur sebagai simbol warisan peradaban yang mempererat hubungan budaya kedua bangsa. Yayasan Sakuranesia berharap kegiatan tersebut menjadi awal kolaborasi yang lebih luas di bidang pendidikan, kebudayaan, dialog lintas agama, lingkungan hidup, dan pemberdayaan masyarakat.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *