Surabaya, Jatim Mandiri
Anomali cuaca membuat banjir rob dan kekeringan terjadi bersamaan di sejumlah wilayah di Jatim. BMKG Maritim Tanjung Perak memprakirakan banjir rob mengancam sejumlah pesisir Jatim hingga 10 Oktober, sementara 25 kabupaten membutuhkan bantuan air bersih akibat kekeringan.
Dua kondisi tersebut mendorong pemerintah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak perubahan kondisi cuaca dan hidrologi. BMKG memprakirakan pasang maksimum mencapai 130cm – 150cm akibat pengaruh fase bulan baru. Kondisi tersebut berpotensi memicu genangan di pesisir Surabaya Barat, Gresik, Lamongan, dan Tuban.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya Sutarno mengatakan, fase bulan baru memengaruhi kondisi pasang surut air laut. “Fase bulan baru ini berpengaruh terhadap kondisi pasang surut yang berpotensi menyebabkan pasang maksimum dengan ketinggian dapat mencapai 130 sampai 150 cm dari rata-rata ketinggian muka air laut,” ujar Sutarno saat dikonfirmasi detikJatim, Minggu (4/10).
Pasang maksimum diprakirakan berlangsung pada malam hari selama periode 4-10 Oktober 2026. Masyarakat pesisir diminta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi pasang laut.
“Pasang maksimum diprakirakan terjadi pada 4-10 Oktober 2026 sekitar pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB,” beber Sutarno.
Menurut Sutarno, genangan akibat pasang maksimum dapat berdampak pada aktivitas masyarakat dan kegiatan ekonomi di kawasan pesisir. “Kenaikan pasang maksimum yang menimbulkan genangan di permukaan dapat mengganggu transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan,” jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah Jatim juga menangani dampak kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah. Sebanyak 25 kabupaten telah mengajukan bantuan air bersih kepada Pemprov Jatim selama musim kemarau.
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kekeringan berkaitan dengan fenomena El Nino yang menyebabkan kemarau berlangsung lebih kering dan cukup panjang.
“Daerah yang membutuhkan droping air sudah mengeluarkan surat darurat, ada 24 daerah terus beberapa hari kemarin bertambah satu daerah, jadi 25 daerah,” kata Khofifah setelah meninjau pendistribusian bantuan air bersih di Desa Pagak, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.
Penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan melalui distribusi air bersih. Pemprov Jatim juga menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat ketersediaan air bagi masyarakat terdampak.
Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan mempertimbangkan perkiraan pertumbuhan awan yang berpotensi memicu hujan. Pelaksanaan OMC tetap dikoordinasikan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). “Di beberapa tempat hujan ringan sampai dengan sedang,” ucap Khofifah.
Pemprov Jatim juga melaksanakan pipanisasi untuk mengalirkan air dari sumber menuju kawasan permukiman penduduk. Di Kabupaten Malang, pipanisasi telah dilakukan di Kecamatan Singosari sepanjang 17 kilometer dan terhubung dengan sumber air di Gunung Arjuno.
Pipanisasi juga dilakukan di kawasan permukiman sekitar Gunung Bromo dengan panjang jaringan antara 11-16 kilometer. Sementara di Desa Pagak, pemerintah menilai wilayah tersebut berpotensi dibangun sumur bor untuk memperkuat pasokan air.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan, seluruh 25 daerah yang mengajukan bantuan merupakan kabupaten. Tidak ada wilayah kota yang masuk dalam daftar tersebut.
“Kalau untuk detailnya yang sudah mengeluarkan status darurat, Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Lumajang, Pamekasan, Bangkalan, dan Malang,” katanya.
Daerah lainnya yakni Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Ngawi, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Pacitan, Tuban, Sampang, Kediri, Nganjuk, dan Sumenep. Gatot menjelaskan, wilayah yang mendapatkan suplai air bersih rata-rata berjarak sekitar tiga kilometer dari sumber mata air. Kondisi tersebut dikategorikan sebagai kering kritis sehingga membutuhkan bantuan.
“Seandainya di bawah tiga kilometer masih bisa ditangani oleh daerah. Alhamdulillah di sini (Desa Pagak) kami sudah memberikan 100 jerigen, tiga tandon bundar, dan dua tandon lipat,” tuturnya.
BMKG mengimbau masyarakat pesisir terus memperhatikan informasi mengenai pasang laut dan perkembangan prakiraan cuaca. Sementara penanganan kekeringan terus diperkuat melalui distribusi air, pipanisasi, OMC, dan pengembangan sumber air alternatif. (*/ibn)












