Lebak, Jatim Mandiri – Produksi jagung di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mencapai 2.860 ton selama Januari-Oktober 2026. Hasil tersebut berasal dari luas panen 520 hektare dan dapat memenuhi permintaan perusahaan pakan ternak. Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dodi Hermawan, menyampaikan data itu di Lebak pada Jumat, 30/10.
Dodi menjelaskan produksi yang tercatat merupakan jagung pipilan. Dengan harga Rp6.000 per kilogram, hasil tersebut dapat menggerakkan perputaran uang miliaran rupiah. “Produksi jagung sebanyak 2.860 ton dalam kondisi jagung pipilan itu dapat menggulirkan perputaran uang miliaran rupiah dengan harga Rp6.000 per kilogram,” kata Dodi.
Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, saat produksi mencapai 7.500 ton. Selisih produksi antara dua periode itu mencapai 4.640 ton. Penurunan terjadi pada produksi jagung hibrida, yang banyak dikembangkan petani di lahan darat. Kondisi kering selama musim kemarau panjang menjadi tantangan bagi tanaman tersebut.
Dodi menyebut kemarau panjang akibat El Nino sebagai penyebab penurunan produksi. Kekeringan membuat tanaman jagung hibrida sulit tumbuh subur di lahan darat. Data produksi Januari-Oktober 2026 mencakup hasil panen dari 520 hektare, dengan jumlah produksi tercatat 2.860 ton. Produksi tersebut tetap dapat memenuhi permintaan perusahaan pakan ternak.
Menghadapi musim hujan, Dodi meminta petani memperluas penanaman jagung pada November-Desember 2026. “Kami minta petani di November-Desember 2026 agar memperluas penanaman jagung, karena memasuki musim hujan,” katanya. Permintaan itu ditujukan kepada petani agar penanaman diperluas pada rentang bulan tersebut, setelah produksi sebelumnya terdampak kemarau dan kekeringan.
Rubai, 55, petani di Cibadak, mengatakan jagung menjadi andalan pertanian. Tanaman itu dapat dipanen 100-110 hari setelah tanam. Produktivitas jagung hibrida rata-rata mencapai 6 ton per hektare, sedangkan harga jagung dalam kondisi kering disebut Rp5.000 per kilogram. Keterangan tersebut menggambarkan masa tanam, hasil rata-rata, dan harga kering yang disebut Rubai.
Berdasarkan angka produktivitas dan harga tersebut, hasil penjualan dapat mencapai Rp30 juta per hektare. Rubai menyebut biaya upah kerja, pupuk, dan benih sebesar Rp10 juta. Setelah biaya itu dikurangi, keuntungan petani dapat mencapai Rp20 juta per panen untuk lahan seluas satu hektare. Perhitungan itu merujuk pada hasil dan biaya yang disampaikan Rubai.
Rubai juga menyampaikan bahwa panen jagung di wilayahnya mencapai ribuan ton. “Panen jagung di sini mencapai ribuan ton dan ditampung oleh perusahaan peternakan di Balaraja, Tangerang,” katanya. Perusahaan peternakan di Balaraja, Tangerang, disebut sebagai pihak yang menampung hasil panen tersebut. Jagung pipilan yang disebut Dodi dan jagung kering yang disebut Rubai memiliki harga berbeda dalam keterangan masing-masing.
Amin, 55, petani di Maja, mengatakan pengembangan jagung memanfaatkan lahan milik BUMN dan perusahaan pengembang properti. Lahan tersebut digunakan untuk komoditas pertanian jagung. Amin menyebut pendapatan dari kegiatan itu membantu ekonomi keluarga. “Ekonomi keluarga kami terbantu, dari pendapatan bersih Rp20 juta per panen dengan tanam seluas satu hektare,” katanya. Keterangan Amin menyebut pendapatan bersih untuk satu kali panen dengan penanaman pada lahan satu hektare.


