Jakarta, Jatim Mandiri
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), telah berdampak pada 520 hektare area hingga Senin (10/8). Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan pemadaman melalui water bombing dan persiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun OMC belum bisa dilakukan dalam 10 hari ke depan, sementara akses wisata TNBTS ditutup untuk keselamatan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah pusat berkoordinasi dengan Pemprov Jatim, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, dan pengelola TNBTS untuk mempercepat pemadaman. “Kami juga izin menyampaikan kepada seluruh teman-teman media, memang dalam rangka atau dari masa El Nino ini, masih banyak terjadi karhutla di sebagian wilayah Indonesia,” kata Prasetyo di Jakarta, Senin.
Menurutnya, pemerintah mengerahkan peralatan water bombing, helikopter, dan pesawat sesuai arahan Presiden. Pemerintah juga berkoordinasi dengan BMKG untuk menyiapkan OMC. “Jadi termasuk dengan BMKG, kami tadi pagi juga rapat dengan BMKG untuk merancang operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.
Namun, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko mengatakan OMC belum dapat dilakukan di Bromo.
“Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC,” kata Satyawan.
Kebakaran di kawasan TNBTS sejatinya telah berlangsung sejak Selasa (4/8). Balai Besar TNBTS mencatat area terdampak mencapai 520 hektare dan pendataan masih berlangsung.
Penanganan difokuskan melalui kombinasi pasukan darat dan pemadaman udara karena sejumlah titik api sulit dijangkau akibat medan terjal.
“Pendekatannya kita kombinasi antara pasukan darat dan water bombing. Kemarin saja sudah ada 30 kali pengeboman air. Namun medan yang sulit, angin kencang, dan kelembapan udara yang sangat rendah membuat upaya pemadaman tidak mudah,” ungkap Satyawan.
Prasetyo mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena kondisi cuaca kering membuat kawasan rentan terhadap percikan api. “Sehingga kami mohon dengan sangat kepada seluruh masyarakat untuk kita mawas diri, ya, menghindari melakukan sesuatu yang berpotensi menimbulkan kebakaran-kebakaran yang tidak terkendali,” ujarnya.
Dampak kebakaran juga dirasakan pelaku jasa wisata Bromo setelah seluruh akses TNBTS ditutup sejak Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB. Pemilik jasa penyewaan jip Bromo Muhammad Nizar Aditya mengatakan pihaknya membatalkan enam perjalanan dengan total 30 wisatawan domestik dan mancanegara.
“Kalau di saya hampir enam trip atau enam rombongan domestik dan internasional yang batal. Total ada 30 wisatawan,” kata Nizar.
Pembatalan juga dilakukan terhadap perjalanan yang dijadwalkan Selasa (11/8). Pelaku usaha memilih mengembalikan 100 persen pembayaran wisatawan yang telah melunasi biaya perjalanan.
“Untuk wisatawan yang ingin ke Gunung Bromo, kami terpaksa cancel dahulu untuk sementara waktu, sampai ada surat putusan dari Balai Besar TNBTS. Kami lakukan refund, kami kembalikan 100 persen uang klien yang sudah melunasi,” ujar Nizar.
Penutupan seluruh akses wisata meliputi Cemorolawang di Probolinggo, Wonokitri di Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Malang, serta Senduro di Lumajang. Balai Besar TNBTS menyediakan opsi penjadwalan ulang atau pengembalian uang bagi wisatawan yang telah membeli tiket daring selama masa penutupan. (ant/ibn)












