Lamongan, Jatimmandiri.id – Di balik keindahan selembar kain batik, tersimpan harmoni kekayaan alam, ketekunan perajin, serta warisan leluhur yang terus dijaga.
Pesona inilah yang membuat Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr Hj Lia Istifhama, terkesima saat menyaksikan langsung karya seni dari Sanggar Batik Mbah Guru di Kabupaten Lamongan.
Senator yang akrab disapa Ning Lia ini mengaku kagum melihat bahan-bahan sederhana dari alam mampu disulap menjadi mahakarya bernilai seni tinggi.
Dalam kunjungannya, ia memantau langsung koleksi batik tulis berkarakter khas yang mengandalkan ragam pewarna alami, mulai dari bunga telang, akar mengkudu, tanaman indigo, hingga sabut kelapa.
“Cakep banget. Batik tulis asli Lamongan,” ujar Ning Lia dengan penuh kekaguman saat mengamati koleksi batik yang dipamerkan, Minggu (25/10/2026).
Bagi Ning Lia, keindahan sehelai batik melampaui sekadar urusan motif dan warna.
Di dalamnya terkandung kreativitas, ketekunan, serta semangat merawat tradisi.
Ia menilai Sanggar Batik Mbah Guru sukses membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan selaras dengan penguatan ekonomi kreatif.
Sementara itu, pendiri Sanggar Batik Mbah Guru, Endang Dzunuraini, memaparkan bahwa pihaknya mendedikasikan area khusus yang ditumbuhi lebih dari 100 varietas tanaman sebagai sumber bahan baku pewarna batik ramah lingkungan.
“Kami menggunakan pewarna alami yang bisa diregenerasi. Di kebun kami ada lebih dari 100 jenis tanaman pewarna alami yang dimanfaatkan untuk produksi batik,” jelas Endang. (alf)
Tidak berhenti pada tanaman budidaya, sanggar ini juga melakukan terobosan dengan menyulap limbah pertanian yang kerap diabaikan menjadi komoditas bernilai tinggi.
Salah satunya melalui pemanfaatan sabut kelapa sebagai komponen pewarnaan alami yang memperkuat keunikan batik khas Lamongan.
Selain konsisten menggunakan warna organik, Sanggar Batik Mbah Guru mempertahankan identitas kultural daerah lewat torehan motif yang terinspirasi dari keindahan bunga melati dan bunga tanjung.
Endang juga aktif memperkaya wawasan terkait tren pasar global agar mahakarya ini kian kompetitif di kancah internasional tanpa kehilangan jati diri aslinya.












