Rembang, Jatimmandiri.id — Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat tidak selalu membawa angin segar bagi eksportir.
Hal ini dirasakan para pelaku industri mebel di Jepara, Jawa Tengah, yang justru menghadapi tekanan akibat lonjakan harga bahan baku.
Alih-alih memperoleh keuntungan dari transaksi ekspor berbasis dolar, pengusaha mebel kini harus menanggung kenaikan biaya produksi yang signifikan.
Dalam dua bulan terakhir, harga bahan baku dilaporkan meningkat hingga lebih dari 30 persen.
Marketing Manager CV Raisa House Indonesia, Hadiyatun Nasihah, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir di seluruh komponen produksi.
Mulai dari bahan utama seperti kayu jati, hingga bahan pendukung seperti kain, busa, plastik, bahan finishing, dan material pengemasan.
“Kenaikan dolar saat ini belum memberikan dampak positif. Justru di sisi lain, hampir semua bahan baku ikut naik signifikan, terutama yang berasal dari impor. Kenaikannya berkisar antara 7 persen hingga lebih dari 30 persen,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).
Ia menjelaskan, ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat pelemahan nilai tukar rupiah semakin membebani biaya produksi.
Kondisi tersebut diperparah dengan menurunnya volume pesanan dari pasar.
“Industri mebel saat ini masih berjuang. Dampaknya sangat panjang dan berantai. Pesanan yang masuk turun hingga sekitar 20 persen,” tambahnya.
Situasi ini membuat pelaku usaha harus bekerja ekstra untuk mempertahankan keberlangsungan bisnis di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Mereka berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah strategis untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Dengan stabilitas nilai tukar, diharapkan industri mebel nasional, khususnya di Jepara, dapat kembali meningkatkan daya saing di pasar ekspor dan menjaga keberlangsungan usaha.












