Semarang, Jatim Mandiri – Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah strategis untuk memperkuat kawasan pesisir. Kedua pihak berencana memasifkan penanaman pohon bakau atau mangrove di wilayah Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, sebelum proyek pembangunan Giant Sea Wall resmi dimulai.
Wakil Kepala BOPPJ Fadil Imran menjelaskan bahwa kegiatan penanaman mangrove tersebut tidak hanya dilakukan secara formal, melainkan juga melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat serta berbagai komunitas. Rangkaian aksi pelestarian lingkungan ini dijadwalkan akan berlangsung dalam waktu dekat.
“Presiden sudah memerintahkan BOPPJ untuk mengoptimalkan perlindungan ekologis dan pengembangan ekonomi masyarakat di Pantura. Salah satu wilayah yang menjadi titik untuk dikelola adalah di Kota Semarang, Demak, dan Kendal,” ujar Fadil Imran saat melakukan audiensi di Semarang pada hari Kamis.
Fadil menambahkan, konsep besar dari proyek Giant Sea Wall ini pada dasarnya berorientasi pada pemberdayaan serta keterlibatan langsung masyarakat sekitar. Hal tersebut dinilai sangat penting demi menjaga keberlanjutan wilayah pesisir secara jangka panjang.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyatakan bahwa inisiatif yang diusung oleh BOPPJ sangat sejalan dengan program lokal yang sudah berjalan di wilayahnya. Pemprov Jateng sendiri memiliki program Mageri Segoro yang selama ini telah melibatkan seluruh komponen masyarakat di berbagai titik pesisir.
“Tentu saja program BOPPJ itu selaras dengan program Jawa Tengah. Kita punya program Mageri Segoro yang itu sudah melibatkan seluruh komponen masyarakat,” ucap Ahmad Luthfi.
Gubernur juga memaparkan bahwa total panjang garis pantai di Jawa Tengah saat ini mencapai 1.127,85 kilometer. Angka tersebut terdiri atas wilayah Pantura sepanjang 651,47 kilometer, kawasan pantai selatan (Pansela) sepanjang 343,50 kilometer, serta wilayah Karimunjawa sepanjang 132,88 kilometer.
Menurutnya, kawasan pesisir merupakan zona krusial karena berkaitan langsung dengan permukiman warga, area tambak, sektor perikanan, kawasan industri, infrastruktur, hingga keberlangsungan hidup masyarakat luas. Khusus untuk kawasan Pantura, tantangan geografis yang dihadapi tergolong sangat kompleks.
Berbagai tantangan tersebut bukan sekadar abrasi dan erosi yang memicu mundurnya garis pantai, tetapi juga persoalan banjir, rob, penurunan muka tanah, hingga sedimentasi. Oleh sebab itu, perlindungan kawasan Pantura mutlak membutuhkan penanganan yang terpadu dan melibatkan sinergi banyak pihak.


