Kota Besar

Pemkot Surabaya Uji Brida Step untuk Atasi Distorsi Bantuan Warga Miskin

×

Pemkot Surabaya Uji Brida Step untuk Atasi Distorsi Bantuan Warga Miskin

Sebarkan artikel ini
Pemkot Surabaya menguji coba Brida Step untuk memetakan potensi warga miskin melalui asesmen psikologi. Program ini bertujuan memastikan bantuan dan pemberdayaan lebih tepat sasaran.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) terus mengembangkan strategi penanggulangan kemiskinan yang lebih efektif.

Salah satunya melalui inovasi Brida Step (Surabaya Talent Entrepreneurial Path), sebuah program yang memetakan potensi, karakter, dan kesiapan warga miskin (Gakin) agar bantuan maupun program pemberdayaan diberikan sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kepala Brida Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan selama ini berbagai program pemberdayaan, seperti Rumah Padat Karya (RPK), Sentra Wisata Kuliner (SWK), hingga bantuan modal usaha, masih menghadapi sejumlah kendala karena menggunakan pendekatan yang seragam tanpa didahului asesmen terhadap kemampuan penerima manfaat.

“Selama ini kita tidak pernah mengases atau membedakan kapasitas setiap warga. Semua disamaratakan, misalnya diberi rombong atau modal, tetapi besoknya bantuan justru tidak berjalan. Ternyata warga kurang mampu itu harus kita pisahkan, mana yang punya potensi dan semangat kerja, serta mana yang butuh pendampingan mental dan motivasi terlebih dahulu,” ujar Agus, Jumat (24/7/2026).

Agus menjelaskan, hasil penelitian awal yang dilakukan menggunakan metode Slovin terhadap 448 responden di 30 kecamatan di Surabaya bersama Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) menunjukkan bahwa warga dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori berdasarkan kapasitas dan kesiapan mereka.

Kelompok pertama adalah warga yang membutuhkan penguatan motivasi, pembinaan mental, dan pembentukan etos kerja.

Kelompok kedua terdiri atas warga yang telah siap bekerja, namun masih memerlukan arahan dan pendampingan sebagai follower.

Kelompok ketiga merupakan individu yang memiliki kemandirian, disiplin, dan ketangguhan dalam bekerja.

Sementara kelompok keempat adalah warga yang memiliki potensi menjadi pemimpin dan layak diarahkan untuk mengembangkan usaha sebagai wirausahawan (entrepreneur).

Menurut Agus, warga yang termasuk dalam kelompok ketiga dan keempat akan mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan usaha melalui kolaborasi dengan sejumlah perguruan tinggi, seperti Universitas Ciputra (UC), Universitas Surabaya (Ubaya), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Airlangga (Unair).

Baca Juga  Surabaya Masuk Kandidat Nasional Kawasan Tanpa Rokok, Kemenkes-Kemendagri Lakukan Penilaian Lapangan

Sementara itu, warga pada kelompok pertama dan kedua akan memperoleh pembinaan yang lebih berfokus pada aspek psikologis, penguatan motivasi, serta pembentukan mentalitas kerja sebelum mengikuti program pemberdayaan ekonomi.

Untuk memastikan hasil asesmen lebih akurat, Brida Step memanfaatkan tiga instrumen psikologi, yakni Tes TIPI untuk mengukur kepribadian, Tes Grit untuk menilai ketangguhan dan konsep diri, serta Tes Kewirausahaan guna mengidentifikasi potensi berwirausaha.

Agus mengungkapkan, saat ini Brida Step masih berada pada tahap uji coba sistem dan implementasi di lapangan. Uji coba perdana telah dilakukan terhadap 77 pekerja Rumah Padat Karya (RPK) Paving di Surabaya.

Dari uji coba tersebut, Brida menemukan sejumlah tantangan, antara lain masih terbatasnya kepemilikan telepon pintar (smartphone) dan tingkat literasi digital sebagian peserta.

“Temuan di lapangan menjadi bahan evaluasi penting. Sistem Brida Step nantinya akan dijalankan secara hibrida, baik berbasis laman web maupun formulir cetak untuk mengakomodasi warga yang tidak memiliki gawai atau membutuhkan pendampingan khusus,” jelasnya.

Apabila tahap uji coba dan inkubasi berbasis psikologi selama lima pekan dinilai berhasil, hasil riset Brida Step akan diintegrasikan ke dalam sistem informasi milik perangkat daerah terkait, seperti Si Asik milik Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) serta Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya.

Ke depan, Brida juga akan memperluas kolaborasi dengan berbagai fakultas psikologi di sejumlah perguruan tinggi di Surabaya, seperti Ubaya, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), dan kampus lainnya, guna memperkuat pembinaan mental masyarakat di Rumah Padat Karya maupun Sentra Wisata Kuliner.

Melalui Brida Step, Pemkot Surabaya berharap program pemberdayaan masyarakat tidak lagi menggunakan pendekatan yang seragam, melainkan berbasis potensi dan karakter masing-masing warga sehingga bantuan yang diberikan benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi angka kemiskinan secara berkelanjutan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *