Surabaya, Jatimmandiri.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara resmi meluncurkan buku berjudul Bung Karno: Aku Arek Suroboyo di Balai Budaya Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Kamis (25/6/2026).
Buku yang diterbitkan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya tersebut mengangkat perjalanan hidup Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dari sudut pandang Kota Surabaya sebagai tempat kelahiran dan awal pembentukan karakter sang proklamator.
Karya tersebut ditulis oleh Prof. Purnawan Basundoro, Samidi, Yayan Indrayana, dan Kukuh Yudha Karnanta. Peluncuran buku turut dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh juara lomba puisi Bung Karno serta pertunjukan teater yang mengisahkan perjalanan hidup dan perjuangan Soekarno.
Acara ini dihadiri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Anggota Komisi X DPR RI Puti Guntur Soekarno, jajaran Forkopimda Surabaya, akademisi, veteran, hingga para pelajar.
Meluruskan Sejarah Bung Karno
Dalam sambutannya, Eri Cahyadi menegaskan bahwa penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari upaya meluruskan sejarah sekaligus menanamkan semangat perjuangan Bung Karno kepada generasi muda.
“Harapannya kita bisa meluruskan sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarahnya. Dengan memahami sejarah, kita tidak akan kehilangan arah dalam membangun masa depan,” ujar Eri.
Menurutnya, buku tersebut juga menjadi penegasan bahwa Soekarno lahir di Surabaya, sekaligus menggambarkan nilai-nilai perjuangan yang dapat diwariskan kepada generasi penerus bangsa.
“Melalui buku ini kami ingin menegaskan bahwa Soekarno lahir di Surabaya. Semangat perjuangan beliau harus diwarisi oleh seluruh arek Suroboyo,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkot Surabaya berencana menjadikan buku tersebut sebagai materi pembelajaran wajib bagi siswa SD dan SMP yang berada di bawah kewenangan pemerintah kota.
“Nantinya buku ini akan kami masukkan sebagai bagian dari kurikulum wajib yang dipelajari oleh siswa SD dan SMP di Surabaya,” tambahnya.
Eri menilai pemahaman sejarah memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan arah pembangunan suatu daerah.
“Sejarah harus tetap hidup di hati masyarakat. Jangan sampai kita melupakan sejarah, karena ketika sebuah kota melupakan sejarahnya, maka kota itu akan kehilangan arah,” tegasnya.
Apresiasi Keluarga Bung Karno
Sementara itu, Puti Guntur Soekarno mengapresiasi hadirnya buku tersebut karena dinilai mampu memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai perjalanan hidup Bung Karno.
“Atas nama keluarga besar Bung Karno, saya mengucapkan terima kasih kepada para penulis dan kepada Cak Eri yang telah membuka cakrawala pemikiran melalui buku yang sangat komprehensif ini,” ujar Puti.
Menurutnya, buku tersebut bukan sekadar dokumentasi sejarah, melainkan juga menjadi sarana untuk membuka kembali ruang diskusi mengenai pemikiran dan gagasan Soekarno yang selama ini kurang mendapat perhatian.
“Buku ini menjadi salah satu jalan untuk membuka kembali pemahaman terhadap ide, gagasan, dan pemikiran Bung Karno yang selama bertahun-tahun kurang terekspos,” katanya.
Puti berharap generasi muda dapat memahami perjalanan hidup Bung Karno yang lahir dan tumbuh di Surabaya melalui buku tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa buku tersebut disusun berdasarkan riset akademik yang kuat dengan memanfaatkan berbagai sumber sejarah, baik dari Indonesia maupun luar negeri.
“Penelitian dilakukan melalui berbagai arsip, perpustakaan, dan museum, termasuk sumber-sumber sejarah di Belanda,” ujarnya.
Hasil Riset Sejarah yang Mendalam
Salah satu penulis buku, Guru Besar Sejarah Perkotaan Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menjelaskan bahwa penulisan buku berawal dari pernyataan Bung Karno dalam autobiografinya yang ditulis oleh Cindy Adams.
Menurut Prof. Basundoro, dalam autobiografi tersebut Soekarno secara jelas menyebutkan dirinya lahir di Surabaya. Namun, detail mengenai lokasi dan bukti-bukti sejarahnya belum banyak dikaji secara mendalam.
Karena itu, tim penulis melakukan penelitian yang cukup panjang untuk menelusuri berbagai dokumen sejarah yang berkaitan dengan tempat kelahiran Bung Karno.
“Kami melakukan riset yang cukup lama untuk membuktikan bahwa Bung Karno memang lahir di Kota Surabaya. Berbagai dokumen tertulis yang kami temukan menunjukkan fakta tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil penelitian yang dituangkan dalam buku tersebut memperkuat fakta sejarah bahwa Bung Karno lahir di Surabaya, bukan di daerah lain sebagaimana masih diyakini sebagian masyarakat.
Meski demikian, Prof. Basundoro menilai generasi muda saat ini masih cukup mengenal sosok Bung Karno melalui pelajaran sejarah di sekolah. Namun, ia mengakui masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa Bung Karno lahir di Blitar karena narasi yang berkembang pada masa lalu.
“Sekarang sebagian besar buku sejarah sudah menuliskan dengan benar bahwa Bung Karno lahir di Surabaya. Buku ini hadir untuk semakin memperkuat pemahaman tersebut,” pungkasnya.












