Surabaya, Jatimmandiri.id – Sengatan matahari Senin sore (17/8/2026) yang membakar aspal perkampungan tak sedikit pun melunturkan senyum warga.
Berbalut busana adat hingga riasan kreasi daur ulang, ratusan warga dari RT 1 hingga RT 8 di lingkungan RW 7, Kelurahan/Kecamatan Tegalsari, tumpah ruah memadati jalanan.
Arak-arakan parade ini menciptakan riak gelombang warna dan tawa yang menyemarakkan akhir pekan.
Diiringi tabuhan drum dan musik yang energik, sengatan cuaca panas seakan lenyap tertutup luapan kegembiraan warga dalam merayakan momentum kemerdekaan.
Pemandangan ini menjadi etalase nyata kuatnya persaudaraan dan keguyuban di tingkat akar rumput.
Sejak tengah hari, halaman rumah dan pos ronda disulap menjadi ruang rias dadakan.
Semua elemen masyarakat terlibat aktif, mulai dari anak-anak yang antusias membawa ornamen bendera Merah Putih, pemuda karang taruna yang sigap mengatur barisan, hingga rombongan ibu-ibu yang tampil all-out dengan kostum tematik.
Ketua RW setempat, Ruswanto, menyampaikan rasa haru dan bangganya saat melepas rombongan karnaval yang menyusuri gang-gang permukiman.
“Melihat dari RT 1 sampai RT 9 semuanya kompak turun ke jalan itu luar biasa membahagiakan. Panas terik matahari sore ini kalah dengan semangat warga. Capek dan haus seolah hilang saat melihat anak-anak, bapak-bapak, dan ibu-ibu tertawa bersama. Ini bukti bahwa modal terbesar kampung kita adalah kerukunan dan gotong royong,” tutur Ruswanto di sela kegiatan.
Karnaval kampung ini menjadi panggung lepas bagi kreativitas swadaya masyarakat yang kaya dan unik.

Langkah para peserta kian semarak dalam balutan pakaian adat dari berbagai penjuru Nusantara, bersanding serasi dengan gaun-gaun kreatif berwawasan lingkungan hasil olahan limbah daur ulang.
Di tengah barisan, para pemuda RT dengan bangga mengarak miniatur simbol perjuangan dan maskot-maskot unik hasil karya tangan mereka sendiri.
Suasana pun kian hidup ketika yel-yel khas dari setiap RT saling bersahut-sahutan, menciptakan riuh sorak kekompakan yang tak henti menggema di sepanjang rute parade.
Kehangatan kian terasa di sepanjang rute. Para sesepuh kampung dan warga yang menonton di depan teras rumah menyambut rombongan dengan membagikan air mineral dingin serta camilan tradisional secara sukarela.
Bagi warga setempat, esensi peringatan Hari Kemerdekaan bukan terletak pada kemegahan panggung seremoni, melainkan pada ruang perjumpaan yang mengikis sekat antartetangga.
“Karnaval ini bukan soal siapa RT yang kostumnya paling mewah, tapi bagaimana kita merawat silaturahmi. Setelah acara ini selesai, yang tersisa adalah rasa persaudaraan yang makin kuat di antara warga,” timpal Ketua RT 2 Hari Agung.
Saat matahari mulai condong ke ufuk barat, barisan karnaval perlahan memasuki garis akhir di balai RW.
Peluh yang membasahi pakaian para peserta menjadi saksi bisu betapa indahnya kebersamaan yang terus dirawat di sudut perkampungan Surabaya ini.












