Surabaya, Jatimmandiri.id– Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Surabaya Wedding Festival (SWF) 2026.
Event pameran pernikahan yang digagas oleh Asosiasi Pengusaha Jasa Dekorasi Indonesia ini berlangsung di Dyandra Convention Center Surabaya (DCCS) mulai 19 hingga 21 Juni 2026.
Mengusung tema “A Curated Journey to Your Ever After”, SWF 2026 dirancang untuk membantu calon pengantin menemukan vendor terbaik melalui konsep kurasi yang lebih terarah, personal, dan inspiratif.
Mewakili Wali Kota Eri Cahyadi, Asisten Administrasi Umum Pemkot Surabaya, Anna Fajriatin, menegaskan bahwa industri pernikahan memiliki dampak ekonomi yang signifikan.
“Industri pernikahan bukan hanya soal perayaan, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian. Banyak tenaga kerja yang bergantung pada sektor ini,” ujarnya saat membuka acara.
Melihat potensi tersebut, Pemkot Surabaya berencana meningkatkan skala SWF pada tahun mendatang sekaligus memasukkannya dalam kalender event tahunan. Bahkan, agenda ini akan diintegrasikan dengan peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS).
“Ke depan, SWF akan menjadi bagian dari rangkaian HJKS dengan penyesuaian jadwal sesuai tren industri,” jelas Anna.
Ia juga menegaskan komitmen Pemkot untuk terus mendorong pertumbuhan industri pernikahan lokal agar semakin berkembang dan berdaya saing.
Sementara itu, Ketua Umum ASPEDI, Sumitro, mengungkapkan pentingnya dukungan pemerintah di tengah tantangan yang dihadapi pelaku usaha. Ia menyebut tren pernikahan saat ini cenderung menurun, meskipun jumlah vendor terus bertambah.
“Penurunan angka pernikahan berdampak langsung pada ekosistem industri. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Melalui SWF 2026, ASPEDI berupaya menghadirkan vendor-vendor pilihan agar pengunjung tidak hanya ramai, tetapi juga lebih tepat sasaran dan potensial.
Selain itu, event ini juga membawa misi edukasi untuk menjaga kelestarian budaya dalam prosesi pernikahan. Berbagai agenda bernuansa adat turut dihadirkan guna mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan tradisi.
“Kami ingin budaya lokal tetap hidup dan menjadi bagian penting dalam setiap pernikahan,” pungkas Sumitro.












