BeritaDalam Negeriꦧꦸꦢꦪ

Kongres Kebudayaan Gali Jejak Nusantara

×

Kongres Kebudayaan Gali Jejak Nusantara

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kongres Kebudayaan Gali Jejak Nusantara

MALANG – Kongres Kebudayaan Nusantara di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Sabtu (8/8), mendorong kebudayaan ditempatkan sebagai kekuatan pembangunan sekaligus fondasi identitas bangsa di tengah perubahan zaman.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Forum bertema “Sarasehan Kebudayaan dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam rangka Menggali Jejak-Jejak Peradaban Kebudayaan Nusantara” itu dihadiri Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan, Staf Khusus Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Irjen Pol. R. Ahmad Nurwahid, S.E., M.M, Pelaksana Pelindungan Keraton Solo KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, tokoh budaya, penghayat kepercayaan, budayawan, serta tamu undangan.

Para peserta dan pemateri membahas pemetaan akar kebudayaan Nusantara serta penguatan peran kebudayaan dan nilai kepercayaan dalam menjaga identitas bangsa di era modern.

Restu Gunawan menegaskan kebudayaan Nusantara mengakar dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat.

“Pak Menteri Fadli Zon selalu bicara bahwa warisan kebudayaan kita ini luar biasa dan kita warisi dari peradaban yang sangat tua. Sepulang dari acara ini semoga budaya kita semakin kuat, kita semakin percaya diri dalam melihat diri kita sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya,” kata Restu.

Ia mengatakan penggunaan pakaian adat dan aksesori tradisional merupakan contoh bahwa kebudayaan masih diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

“Penggunaan pakaian adat, aksesoris tradisional adalah bukti bahwa setiap hari kita mengimplementasikan kebudayaan dalam kehidupan,” ujar Restu.

Sebagai penyelenggara kongres, Ketua DPP Himpunan Penghayat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa (HPK), Hadi Prajoko, mengatakan kebudayaan memiliki posisi penting dalam perjalanan peradaban Nusantara.

“Budaya merupakan sesuluh dan portal peradaban dunia. Dan intisari 7 unsur kebudayaan yang dirumuskan Prof Koentjaraningrat, kita bahas dalam kongres kebudayaan ini,” katanya.

Baca Juga  Wakapolri Awasi Seleksi Taruna Akpol 2026, Teknologi HRV, BMD, dan VO₂ Max Tingkatkan Akurasi Rikkes

Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar, M.Si., mengatakan Indonesia dibangun di atas fondasi peradaban yang telah berlangsung sangat panjang.

Menurutnya, jauh sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, Nusantara telah memiliki sistem nilai, tata kehidupan, filosofi, ilmu pengetahuan, seni, tradisi, hingga tata kelola masyarakat.

“Bangsa yang kehilangan budayanya akan kehilangan arah. Bangsa yang lupa sejarahnya akan mudah kehilangan identitas. Karena itu, membangun Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan pembangunan infrastruktur, investasi dan pertumbuhan ekonomi. Kita juga harus membangun infrastruktur kebudayaan,” tegasnya.

Budiar menjelaskan, infrastruktur kebudayaan tidak hanya berupa bangunan atau fasilitas fisik. Infrastruktur tersebut mencakup manusia berkarakter, keluarga yang menanamkan nilai luhur, generasi muda yang bangga terhadap budayanya, serta negara yang memberi ruang bagi ekspresi budaya.

Ia menilai jejak peradaban Nusantara tidak hanya tersimpan dalam prasasti, candi, manuskrip, dan artefak sejarah. Warisan tersebut masih hidup melalui bahasa daerah, kesenian, ritual adat, kearifan lokal, gotong royong, dan nilai spiritual masyarakat.

“Di Kabupaten Malang sendiri, kita dianugerahi kekayaan sejarah dan budaya yang luar biasa. Mulai dari peninggalan Kerajaan Kanjuruhan, warisan Singhasari, tradisi adat masyarakat, kesenian Topeng Malangan, jaranan, bantengan, hingga berbagai ritual budaya yang masih lestari di tengah masyarakat. Semua itu merupakan mata rantai panjang perjalanan peradaban Nusantara yang wajib kita rawat bersama,” tuturnya.

Menurut Budiar, perkembangan teknologi dan era digital menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi keberlanjutan kebudayaan. Teknologi harus dimanfaatkan untuk memperkuat eksistensi budaya, bukan menjauhkan generasi muda dari akar tradisinya.

Ia juga mendorong kebudayaan ditempatkan bukan sekadar sebagai objek pelestarian, tetapi sebagai sumber inspirasi pembangunan. Ruang kebudayaan perlu terus dihidupkan agar masyarakat dapat mengenal sejarah, bahasa daerah, seni tradisi, dan nilai luhur Nusantara.

Baca Juga  Menuju Panggung Unesco, Komunitas Seni dan Budaya Gelar Srawung Aksara Kawi di Malang

Pemanfaatan teknologi digital, lanjutnya, dapat digunakan untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan mengembangkan warisan budaya hingga dikenal lebih luas, termasuk tingkat internasional.

Kebudayaan juga dinilai memiliki potensi dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi kreatif dengan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur.

Budiar berharap kongres menghasilkan gagasan, rekomendasi strategis, dan jejaring kolaborasi untuk menempatkan kebudayaan sebagai salah satu fondasi pembangunan bangsa.

“Semoga dari forum ini lahir semangat baru untuk menjaga warisan leluhur sekaligus mewariskannya kepada generasi yang akan datang. Karena sesungguhnya, kita tidak mewarisi bumi dan kebudayaan ini dari para leluhur, tetapi kita meminjamnya dari anak cucu kita. Mari kita jaga bersama, mari kita rawat bersama, dan mari kita wariskan dengan penuh kebanggaan,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Surabaya, Jatim Mandiri Bank Mandiri menghadirkan rangkaian program sosial, promo, dan layanan digital di Surabaya selama Agustus 2026 untuk menyambut…