Kota Besar

Pemkot Surabaya Ajak Warga Tanam Cabai di Rumah, 231 RW Ikut Program Urban Farming 2026

Penulis: RedaksiEditor: Eko Yudiono
×

Pemkot Surabaya Ajak Warga Tanam Cabai di Rumah, 231 RW Ikut Program Urban Farming 2026

Sebarkan artikel ini
Pemkot Surabaya mengajak warga menanam cabai di rumah untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Program SUFC 2026 telah melibatkan 462 peserta dari 231 RW.
Example 468x60

Surabaya, jatimmandiri.id– Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus mendorong masyarakat memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui gerakan menanam cabai di lingkungan rumah.

Program ini mengajak warga memanfaatkan lahan yang tersedia untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Penanaman cabai dapat dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan, pot, polybag, maupun lahan bersama di lingkungan permukiman. Dengan demikian, keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan pertanian perkotaan atau urban farming.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya, Nanik Sukristina, mengatakan bahwa menanam cabai bisa dimulai dari langkah sederhana. Selain menjadi kegiatan produktif, hasil panen juga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari sehingga membantu menghemat pengeluaran rumah tangga.

“Kami mengajak masyarakat mulai memanfaatkan ruang yang ada di sekitar rumah untuk menanam cabai. Tidak harus memiliki pekarangan luas, karena bisa menggunakan pot atau polybag. Yang terpenting, masyarakat mau memulai dan merawat tanaman tersebut agar bisa tumbuh hingga menghasilkan panen,” kata Nanik, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, gerakan menanam cabai juga menjadi salah satu upaya mendukung stabilitas harga pangan. Sebab, harga dan ketersediaan cabai di pasaran dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya kondisi cuaca, kemarau panjang, produktivitas tanaman, pasokan dari sentra produksi, hingga kelancaran distribusi dan biaya logistik.

Oleh karena itu, keterlibatan masyarakat dalam menghasilkan sebagian kebutuhan pangan secara mandiri dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan, dimulai dari lingkungan keluarga.

“Karena itu, keterlibatan masyarakat dalam menghasilkan sebagian kebutuhan pangan secara mandiri diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan mulai dari tingkat rumah tangga,” ungkapnya.

Gerakan tersebut juga sejalan dengan pelaksanaan Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 yang diluncurkan pada 4 September 2026. Dalam program ini, cabai rawit dan bawang merah menjadi dua komoditas utama yang didorong untuk dibudidayakan masyarakat.

Baca Juga  Jackson Shoes x Artchemist Gelar Pameran Veridis Quo

Pelibatan warga dilakukan melalui kelompok tani, RT/RW, hingga lingkungan Kampung Pancasila. Program ini diharapkan mampu menjadikan kegiatan bercocok tanam sebagai kebiasaan positif sekaligus aktivitas bersama yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami ingin kegiatan menanam ini bisa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Warga yang tidak memiliki pekarangan pun tetap bisa berpartisipasi dengan memanfaatkan lahan bersama di lingkungan tempat tinggal. Dengan begitu, urban farming dapat menjadi kegiatan kolektif yang manfaatnya dirasakan bersama,” ujarnya.

Partisipasi masyarakat dalam SUFC 2026 menunjukkan perkembangan positif. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 462 peserta dari 231 RW telah terlibat dalam program tersebut.

Jumlah itu mencapai sekitar 92,4 persen dari target awal yang ditetapkan sebanyak 250 RW. Capaian ini sekaligus menunjukkan besarnya potensi pengembangan pertanian perkotaan di Kota Surabaya.

Untuk mendukung keberhasilan program, DKPP Kota Surabaya memberikan perhatian terhadap penyediaan benih, pendampingan budi daya, serta edukasi mengenai perawatan tanaman. Khusus peserta kategori kelompok tani dalam SUFC 2026, panitia juga menyediakan satu paket benih cabai rawit.

Pendampingan yang diberikan mencakup berbagai tahapan, mulai dari penyemaian benih, pengelolaan media tanam, pemupukan, penyiraman, hingga pengendalian hama dan penyakit tanaman.

“Kami juga memberikan edukasi agar masyarakat memahami cara merawat tanaman dengan baik. Pendampingan mencakup penyemaian, pengelolaan media tanam, pemupukan, penyiraman, hingga pengendalian hama dan penyakit. Dengan begitu, warga yang baru pertama kali mencoba urban farming juga bisa mengikuti,” jelas Nanik.

Ia menegaskan, keberhasilan gerakan urban farming tidak hanya dilihat dari banyaknya warga yang mulai menanam. Lebih dari itu, keberlanjutan perawatan hingga tanaman tumbuh dan menghasilkan panen menjadi hal yang tidak kalah penting.

“Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti pada saat menanam saja. Tanaman perlu dirawat secara rutin sampai berbuah dan bisa dipanen. Dengan begitu, masyarakat dapat merasakan langsung manfaatnya untuk kebutuhan keluarga,” tuturnya.

Baca Juga  Polres Tanjung Perak Sita 65,51 Gram Sabu, Pemuda Asal Sampang Ditangkap

Melalui gerakan ini, Pemkot Surabaya berharap semakin banyak rumah tangga yang memiliki tanaman cabai sendiri. Meskipun hasil panen setiap keluarga bergantung pada produktivitas dan perawatan tanaman, keberadaan tanaman cabai di rumah dapat menjadi tambahan pasokan untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

“Pemkot Surabaya mengajak masyarakat menjadikan urban farming sebagai kebiasaan positif. Dari satu pot cabai di rumah hingga kebun bersama di lingkungan RW, langkah sederhana tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kemandirian pangan sekaligus memperkuat kepedulian warga terhadap ketersediaan pangan di Kota Pahlawan,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *