Jepara, Jatimmandiri.id=Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara resmi mengukuhkan Seni Kentrung sebagai salah satu mata lomba lokal dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Jepara.
Pengukuhan tersebut berlangsung di Pendopo R.A. Kartini, Sabtu (20/6/2026) malam.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian budaya lokal sekaligus mendorong regenerasi pelaku seni tradisional di Kabupaten Jepara.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, di antaranya Wakil Bupati Jepara Muhammad Ibnu Hajar yang mewakili Bupati Jepara H. Witiarso Utomo, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Dwi Laily Sukmawati, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Ali Hidayat, Forkopimda, serta berbagai tokoh budaya, tenaga pendidik, dan komunitas seni.
Wakil Bupati Jepara yang akrab disapa Gus Hajar menegaskan bahwa pengukuhan ini bukan sekadar memasukkan Seni Kentrung sebagai cabang lomba, tetapi juga bentuk komitmen bersama untuk menjaga keberlangsungan budaya daerah.
“Yang dikukuhkan bukan hanya mata lomba, melainkan komitmen bersama agar Seni Kentrung tetap hidup dan berkembang lintas generasi,” ujarnya.
Seni Kentrung sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Kesenian ini dinilai memiliki nilai strategis sebagai media penyampaian pendidikan karakter, nilai keagamaan, serta kearifan lokal masyarakat Jepara.
Upaya pelestarian juga dilakukan melalui program yang diinisiasi Yayasan Jungpara.
Melalui workshop yang digelar di seluruh kecamatan, program tersebut berhasil menjangkau lebih dari 700 peserta.
Selain itu, sebanyak 70 peserta mengikuti tahap audisi melalui video, dan 25 finalis terbaik dari tingkat SD dan SMP tampil pada babak final yang dilaksanakan pada Sabtu pagi.
Dalam ajang tersebut, untuk tingkat SD, Juara 1 diraih oleh SDN 1 Panggang, disusul SDN 2 Panggang sebagai Juara 2, dan SDN 3 Krapyak sebagai Juara 3.
Sementara itu, di tingkat SMP, Juara 1 diraih MTs Tsamrotul Huda Kecapi, Juara 2 SMPN 3 Kedung, dan Juara 3 SMP UT Bumi Kartini.
Pemkab Jepara berharap pengukuhan ini menjadi tonggak penting dalam menjaga keberlangsungan Seni Kentrung.
Tidak hanya tampil di panggung pertunjukan, kesenian ini juga diharapkan dapat diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, baik melalui kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Dengan demikian, Seni Kentrung diharapkan tetap hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi muda secara berkelanjutan.












