Kediri, Jatimmandiri.id – Muktamar ke-35 NU menjadi momentum penting bagi arah kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Aktivis Ansor dan Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri LBH Al Faruq, Taufiq Dwi Kusuma SH MH, secara terbuka menyatakan dukungan kepada KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Taufiq menegaskan, dukungan terhadap Gus Salam bukan didasari fanatisme personal maupun sekadar mengikuti arus dukungan menjelang Muktamar ke-35 NU.
Ia mengaku melihat sosok Gus Salam dari perspektif kader dan aktivis yang selama ini bersentuhan dengan persoalan umat, hukum, organisasi, serta masyarakat.
“Bagi saya, PBNU membutuhkan khodim yang mampu membantu mengembalikan fokus organisasi kepada khidmah, penguatan kaderisasi, pesantren, masyarakat, serta penataan organisasi. Saya melihat Gus Salam membawa tawaran tersebut,” ungkapnya, Selasa (18/8/2026).
Menurut Taufiq, kepemimpinan PBNU tidak semestinya hanya dilihat dari seberapa besar dukungan politik yang dimiliki seorang kandidat.
Lebih dari itu, pemimpin organisasi sebesar NU harus mampu membangun sistem yang sehat, transparan, tertib, serta dapat dipertanggungjawabkan.
“Justru saya melihat ini sebagai persoalan tata kelola organisasi. NU adalah organisasi besar yang memiliki struktur dari tingkat pusat sampai daerah dan memiliki jutaan warga. Karena itu, kepemimpinan PBNU bukan hanya soal siapa yang memiliki dukungan politik paling besar, tetapi siapa yang mampu membangun sistem organisasi yang sehat, transparan, tertib, dan mampu dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Ia mengatakan prinsip kekuasaan yang tunduk pada aturan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan pilihan.
Setiap keputusan, menurutnya, harus dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan perbedaan pandangan perlu diselesaikan melalui mekanisme organisasi.
Pandangan tersebut tidak lepas dari aktivitas Taufiq di bidang bantuan hukum.
Sebagai pendiri LBH Al Faruq, ia menyebut pengalaman advokasi mengajarkan pentingnya keberpihakan kepada masyarakat yang membutuhkan pendampingan.
Ia juga mengutip QS Al-Ma’idah ayat 2 tentang pentingnya tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
Namun, Taufiq menegaskan dukungan politik-organisasinya kepada Gus Salam tetap harus dipisahkan dari aktivitas LBH Al Faruq.
“Saya melihat keduanya memiliki titik temu pada prinsip advokasi dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat,” katanya.
“Namun saya ingin menegaskan, dukungan politik-organisasi saya kepada Gus Salam tidak boleh disamakan dengan aktivitas bantuan hukum LBH. Keduanya harus tetap memiliki batas dan independensi masing-masing,” tambah Taufiq.
Gus Salam sebelumnya telah menyatakan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, tersebut menyebut keputusannya diambil setelah mendapat dawuh dari sesepuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Djazuli, serta dukungan sejumlah tokoh NU.
Menjelang muktamar, Gus Salam terlihat aktif melakukan silaturahmi dengan PWNU dan PCNU di sejumlah daerah. Langkah tersebut dilakukan untuk membangun komunikasi dengan pengurus NU di berbagai wilayah.












