Bojonegoro, Jatimmandiri.id – Ditengah derasnya arus dan bentangan Sungai Bengawan Solo yang mencapai lebih dari 100 meter, sebuah perahu plat bermesin diesel 10 PK tetap menjadi urat nadi mobilitas warga di Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro. Setiap hari, perahu tersebut menghubungkan ribuan warga dari tiga desa menuju pasar, sekolah, hingga tempat kerja dengan waktu tempuh hanya beberapa menit.
Penyeberangan yang berada di Desa Kandangan itu melayani masyarakat dari Desa Kandangan, Kanten, dan Sumbangtimun. Bagi warga, keberadaan perahu menjadi solusi paling praktis dibanding harus memutar melalui jembatan yang letaknya cukup jauh.
Jika menggunakan perahu, perjalanan menuju Pasar Pungpungan hanya memakan waktu sekitar lima menit. Sebaliknya, apabila melewati jalur darat, warga harus memutar melalui Bendungan Gerak yang berjarak sekitar lima kilometer atau Jembatan Malo sejauh tujuh kilometer.
Salah seorang pedagang asal Desa Kandangan, Muntamah, mengaku memilih menggunakan jasa penyeberangan karena lebih cepat dan hemat biaya.
“Kalau muter lewat jembatan kejauhan dan habis bensin. Lewat sini lima menit sudah sampai Pasar Pungpungan. Lebih cepat dan murah,” ujarnya.
Pasar Pungpungan menjadi tujuan utama warga karena lokasinya paling dekat dan menawarkan harga kebutuhan pokok yang relatif terjangkau.
Tak hanya pedagang, layanan penyeberangan juga dimanfaatkan para pelajar dan pekerja yang setiap hari beraktivitas di seberang sungai.
Fariz, siswa sekolah dasar asal Desa Kandangan, mengatakan perahu membantu memangkas waktu perjalanan menuju sekolah.
“Lewat sini 10 menit sampai sekolah. Kalau muter capek di jalan,” katanya.
Hal senada disampaikan Dafa, seorang pekerja pabrik yang mengandalkan penyeberangan tersebut setiap hari.
“Saya kerja setiap hari lewat sini. Kalau lewat Malo atau Bendungan Gerak bisa telat,” ungkapnya.
Penyeberangan dioperasikan menggunakan perahu plat dengan mesin diesel berkekuatan 10 PK yang mampu melawan arus Bengawan Solo. Setiap hari, layanan dibuka mulai pukul 04.30 WIB hingga 21.00 WIB untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat.
Pengelola penyeberangan, Mas Tuh, mengatakan penumpang berasal dari berbagai kalangan, mulai ibu rumah tangga yang berbelanja ke pasar, pelajar, hingga pekerja.
“Penumpangnya dari Desa Kandangan, Kanten, sampai Sumbangtimun. Ada ibu-ibu ke pasar, anak sekolah, bapak-bapak kerja. Sehari bisa puluhan kali bolak-balik,” ujarnya.
Meski demikian, keselamatan tetap menjadi prioritas. Mas Tuh menegaskan operasional akan dihentikan apabila debit air Bengawan Solo meningkat dan dinilai membahayakan penumpang.
Di balik manfaat besar penyeberangan tersebut, warga masih menyimpan harapan agar pemerintah membangun jembatan permanen. Mereka menilai keberadaan jembatan akan memberikan akses yang lebih aman, terutama saat musim hujan ketika arus sungai menjadi lebih deras.
“Kami bersyukur ada perahu ini. Tapi demi keamanan anak-anak, kami mohon dibuatkan jembatan,” harap warga.
Hingga kini, perahu penyeberangan di Desa Kandangan masih menjadi akses vital yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan bagi masyarakat di tiga desa Kecamatan Trucuk.












