Surabaya, Jatimmandiri.id – Berdiri sejak tahun 2022, grup musik asal Surabaya, MegaSnake, terus konsisten meramaikan skena musik lokal.
Digawangi oleh tiga personel Malizar Heruroso (31) sebagai ketua band sekaligus basis, Irfan Aditya (29) di posisi gitar, dan Rizal Wahyu (31) pada drum, trio ini mengusung genre pop-rock dengan visi musik yang konseptual.
Berawal dari keinginan sederhana untuk menyalurkan hobi ngeband, MegaSnake langsung melangkah cepat sejak awal terbentuk.
Lagu pertama yang mereka rilis, Gila, menjadi titik awal sebelum akhirnya mereka gencar menulis lagu-lagu baru dan tampil di berbagai venue.
Bagi para personel MegaSnake, bermusik bukan sekadar mengisi waktu luang. Mereka bercita-cita melahirkan sebuah album penuh sebagai penanda keberadaan sekaligus karya besar mereka.

Draf pembuatan album telah dimulai sejak tahun 2022. Prosesnya dilakukan secara berkala, diawali dengan pengerjaan dua lagu awal hingga nantinya rampung menjadi satu album utuh.
Meski sempat merencanakan Extended Play (EP), MegaSnake kini lebih fokus mengeksplorasi ragam genre.
Musik mereka tidak terpaku pada satu warna saja, melainkan mencampurkan berbagai elemen agar terasa lebih luas dan dinamis.
Untuk ke depannya, MegaSnake bertekad berkembang, memperluas eksplorasi musik, dan berharap karya-karya mereka dapat diterima oleh pendengar yang lebih luas.
Bagi Malizar dan rekan-rekannya, aktivitas ngeband disikapi layaknya hobi positif lainnya, seperti memancing atau olahraga.
Meski belum dijadikan sebagai mata pencaharian utama, mereka menjalani proses kreatif ini dengan penuh ketekunan dan kesenangan.
“Kami menganggap kegiatan ini positif. Band ini serius dalam bermusik, tetapi belum menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Kami senang menyajikan hasil kerja musik kami kepada publik,” ujar Malizar, Selasa (28/7/2026).
Tentu perjalanan ini tak lepas dari tantangan. Sebagai band perintis dengan format trio, mereka kerap menghadapi kendala teknis.
Misalnya, keterbatasan jumlah personel dan tata suara yang belum semegah grup bermusik dengan anggota lebih banyak.
Selain itu, bermain di ruang lingkup lokal seperti Surabaya kerap memberikan dinamika tersendiri.
Meski harus mengeluarkan biaya mandiri untuk sewa studio dan kebutuhan teknis lainnya, semangat mereka tidak surut.
“Mengusung format tiga orang ternyata membawa keuntungan tersendiri dalam menjaga dinamika internal,” katanya.
“Saat terjadi perbedaan pendapat atau konflik, kami mengandalkan sistem voting. Dengan jumlah anggota ganjil, keputusan dapat diambil secara adil tanpa ada hasil imbang,” sambung Malizar.
Dengan suasana kerja yang santai namun tetap berpatokan pada evaluasi mendalam tiap kali ada kesalahan, MegaSnake terus memantapkan langkah mereka menuju panggung musik yang lebih luas.












