Beritaꦧꦸꦢꦪ

Menguji Petunjuk Atlantis pada Alam Nusantara

Editor: ibn
×

Menguji Petunjuk Atlantis pada Alam Nusantara

Sebarkan artikel ini
Keberadaan temuan atau artefak yang disebut-sebut berasal dari peradaban Atlantis bisa menjadi petunjuk penting untuk keperluan penelitian.
Example 468x60

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno

Geolog Danny Hilman Natawidjaja membaca uraian flora, fauna, musim, gunung, dan sungai dalam karya Plato sebagai petunjuk yang memiliki kemiripan dengan Nusantara. Namun, setiap ciri harus diperiksa melalui naskah, terjemahan akademis, dan ilmu alam sebelum dijadikan dasar hipotesis lokasi.

———————-

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Di tangan pembaca modern, gambaran alam berusia ribuan tahun itu dapat berubah menjadi petunjuk geografis. Persoalannya, Plato tidak meninggalkan peta, koordinat, spesimen, atau nama tumbuhan yang mudah dikenali sekarang.

Kisah Atlantis muncul dalam dialog Timaeus dan Critias. Uraian mengenai lingkungan, sumber daya, hewan, pertanian, serta bentang wilayah terutama ditemukan dalam Critias.

Danny melihat beberapa ciri dalam uraian tersebut mendekati lingkungan tropis. Perbandingannya mencakup gajah, rawa, pegunungan, sungai, hewan ternak, hasil alam melimpah, dan buah yang tidak bertahan lama. “Binatang banyak sekali yang ada di gunung dan rawa. Ada yang diternakkan, sedangkan gajah menjadi indikasi spesifik,” ujar Danny.

Pembacaan itu telah dikenalkan Danny kepada publik sejak penerbitan bukunya pada 2013. Ketika itu, ia menghubungkan geografi, hewan, kekayaan alam, dan iklim dua musim dengan Sundaland. Pandangan itu juga diberitakan The Nation Thailand.

Namun, hubungan setiap ciri dengan kawasan tropis tetap memerlukan pemeriksaan terhadap kata-kata yang digunakan Plato. Dalam terjemahan Critias oleh Benjamin Jowett, Plato memang menyebut populasi gajah dalam jumlah besar. Pulau itu juga menopang hewan liar maupun peliharaan.

Hewan-hewan itu digambarkan hidup di danau, rawa, sungai, gunung, dan dataran. Uraian itu menghadirkan wilayah dengan beragam habitat serta ketersediaan makanan yang melimpah.

Gajah menjadi unsur yang menarik karena tidak ditemukan secara alami di seluruh dunia. Namun, penyebutannya belum langsung menentukan Asia Tenggara sebagai satu-satunya kawasan pembanding.

Baca Juga  Satu Korban Ditemukan di Dalam Kapal

Teks tersebut tidak menerangkan spesies gajah, fosil, atau rentang persebarannya. Ahli biogeografi perlu memeriksa wilayah yang pernah dihuni berbagai jenis gajah pada masa yang dibandingkan.

Di sisi lain, waktu juga menjadi persoalan penting. Persebaran hewan terus berubah akibat iklim, perubahan habitat, perpindahan alami, perburuan, dan campur tangan manusia.

Karena itu, gajah dapat menjadi petunjuk awal, tetapi bukan penunjuk lokasi tunggal. Nilainya baru menguat jika sesuai dengan masa, lingkungan, dan rangkaian bukti lainnya.

Petunjuk kedua datang dari tumbuhan dan hasil bumi. Plato menggambarkan akar, tanaman, kayu, bunga, buah, serta berbagai bahan yang digunakan untuk makanan, minuman, dan minyak.

Terjemahan Jowett juga memuat jenis buah yang mudah rusak atau busuk selama penyimpanan. Danny melihat bagian tersebut sebagai ciri hasil bumi wilayah tropis.

Tafsir itu memungkinkan, tetapi makna setiap istilah perlu dibaca melalui bahasa Yunani dan konteks zamannya. Ungkapan tentang daya simpan belum tentu merujuk kepada satu buah tertentu.

Jenis buah juga tidak disebut secara botani. Tanpa nama tanaman, serbuk sari, biji, atau sisa tumbuhan, paleobotanis belum dapat menghubungkannya dengan wilayah tertentu.

Perbedaan terjemahan dapat menghasilkan kesan yang berbeda. Sebuah kata dapat diterjemahkan sebagai buah, hasil bumi, tanaman pangan, atau bahan makanan, bergantung konteks dan pilihan penerjemah.

Kajian Christopher Gill, Plato’s Atlantis Story: Text, Translation and Commentary, menyediakan teks Yunani, terjemahan baru, dan komentar penafsiran. Karya itu memperlihatkan pentingnya membaca naskah bersama penjelasan kebahasaan.

Petunjuk lain berkaitan dengan musim dan pertanian. Danny menilai pola produksi pangan dalam kisah tersebut mempunyai kedekatan dengan kawasan yang mengenal dua musim.

Namun, terjemahan Jowett tidak secara eksplisit menyebut musim hujan dan kemarau. Plato menulis bahwa penduduk Atlantis memperoleh hasil pertanian dua kali dalam setahun.

Baca Juga  Dorong Transformasi Kendaraan Listrik

Panen musim dingin memanfaatkan hujan dari langit. Pada musim panas, pertanian mendapat air yang dialirkan dari jaringan kanal.

Perbedaan itu penting karena dua masa panen tidak selalu sama dengan dua musim tropis. Sistem tersebut juga menunjukkan peranan pengairan, bukan hanya iklim.

Ahli paleoklimatologi dapat menguji apakah pola hujan dan pertanian tersebut sesuai dengan lingkungan tertentu. Kajian itu membutuhkan perkiraan waktu yang jelas agar perbandingannya tidak melintasi periode berbeda.

Gambaran pegunungan dan sungai menghadirkan petunjuk berikutnya. Plato menulis tentang dataran rata yang dikelilingi pegunungan, kemudian dialiri sungai menuju laut.

Di kawasan pegunungan terdapat desa, danau, padang rumput, hutan, serta makanan bagi hewan liar dan ternak. Datarannya digambarkan subur dan mempunyai saluran air.

Bentang semacam itu dapat ditemukan di kawasan tropis, tetapi juga terdapat di wilayah beriklim lain. Gunung, sungai, dan dataran subur bukan ciri yang hanya dimiliki Nusantara.

Sementara itu, belum ditemukan rangkaian bukti yang menghubungkan teks Plato secara langsung dengan satu lokasi di Nusantara. Hubungan tersebut masih berada dalam wilayah penafsiran dan hipotesis.

Pengujiannya memerlukan kerja bersama ahli filologi Yunani, biogeografi gajah, paleobotani, paleoklimatologi, geologi, dan arkeologi Asia Tenggara. Setiap bidang membaca petunjuk yang berbeda.

Filolog memastikan arti kata dan konteks kalimat. Ahli alam memeriksa kemungkinan lingkungannya, sedangkan arkeolog menilai apakah terdapat jejak kehidupan manusia yang sesuai.

Pembagian tugas itu menjadikan naskah lama tetap berguna tanpa membebaninya sebagai bukti tunggal. Plato memberikan gambaran, sedangkan ilmu pengetahuan memeriksa kemungkinan di balik gambaran tersebut.

Dengan pendekatan itu, perdebatan tidak berhenti pada pertanyaan apakah Plato benar atau keliru. Tapi bagaimana teks kuno dipelajari, diterjemahkan, dibandingkan, dan diuji.

Baca Juga  Enam Kasus Narkoba, Enam Tersangka

Kisah Atlantis akhirnya lebih tepat diperlakukan sebagai daftar pertanyaan daripada peta siap pakai. Gajah, buah, musim, gunung, dan sungai membuka arah pencarian, tetapi belum menentukan tempat tujuan. (*/ibn)

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Kediri, Jatim Mandiri Bea Cukai Kediri bersama Satpol PP Jombang menemukan modus penjualan rokok ilegal menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi…

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Sundaland pernah menjadi bentang daratan luas dengan air, tanah subur, mineral, gunung, dan laut yang mendukung…