Tembus 6,1 Juta Wisatawan saat Liburan Sekolah Juli
Surabaya, Jatimmandiri.id
Sektor pariwisata di Jatim mencatatkan performa gemilang yang menempatkan provinsi paling timur Pulau Jawa itu di posisi terdepan secara nasional. Selama momentum libur sekolah bulan Juli 2026, volume pergerakan pelancong yang berwisata ke berbagai destinasi di Jatim menembus angka fantastis, yakni mencapai 6,1 juta orang.
Grafik pertumbuhan ini mencerminkan lonjakan masif sebesar 21 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Indikator impresif tersebut sekaligus menobatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan laju pertumbuhan sektor pariwisata tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan kompilasi data resmi yang dirilis pemerintah, pergerakan jutaan wisatawan tersebut terkonsentrasi secara padat dalam kurun waktu dua minggu masa liburan sekolah. Angka kunjungan yang meledak ini disambut optimis oleh jajaran otoritas daerah.
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, memberikan apresiasi tinggi atas capaian ini. Menurutnya, realisasi statistik ini menjadi bukti sahih bahwa diversifikasi destinasi dan strategi pemasaran pariwisata Jatim semakin memikat para pelancong domestik maupun mancanegara.
“Dalam masa libur sekolah Juli 2026, Jatim mencatat kenaikan wisata sebesar 21 persen. Ini merupakan angka tertinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia,” ungkap Gubernur Khofifah dalam pernyataan resminya di Surabaya.
Dampak positif dari ledakan kunjungan ini dipastikan tidak hanya berhenti sebagai laporan prestasi di atas kertas. Tapi juga memberikan efek domino (multiplier effect) secara riil bagi perputaran roda perekonomian di akar rumput.
Meningkatnya keterisian hunian kamar penginapan dan mobilitas publik secara langsung menyuntikkan likuiditas finansial yang sehat bagi para pelaku usaha lokal. Gubernur Khofifah menggarisbawahi bahwa perputaran uang dari para pelancong, menjadi basis penguat bagi ketahanan ekonomi daerah.
“Kehadiran wisatawan Insya Allah memberikan manfaat besar bagi masyarakat Jatim, khususnya pelaku bisnis di bidang perhotelan, transportasi, dan UKM,” imbuh mantan Menteri Sosial tersebut.
Meskipun laju pertumbuhan melahirkan optimisme tinggi, Pemprov Jatim menyadari bahwa lonjakan volume massa dalam waktu singkat membawa tantangan tersendiri. Hal ini terutama menyangkut daya dukung lingkungan tempat wisata.
Manajemen kapasitas, peningkatan fasilitas prasarana, serta jaminan kebersihan dan keselamatan ekosistem wisata kini menjadi fokus evaluasi utama pemerintah daerah agar kualitas pengalaman para pelancong tetap terjaga secara premium.
Keberhasilan penataan pariwisata ini dinilai sebagai buah manis dari kolaborasi integratif antara jajaran birokrasi, pelaku industri kreatif, serta kesadaran kolektif masyarakat lokal dalam menyambut wisatawan (sadar wisata).
“Besar harapan kami, sinergitas dan kemitraan yang telah terbangun dapat terus kita lanjutkan, sehingga dampak positif dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara berkelanjutan,” pungkas Khofifah. (har/ibn)












