Melalui untaian doa yang diaminkan secara massal tersebut, pihak keluarga berharap tumpahan berkah dapat mengalir menjadi amal jariyah yang tak terputus bagi almarhum di alam keabadian.
“Namun yang paling utama adalah Umbul Dungo, yaitu doa yang kami persembahkan untuk almarhum,” ujar Agus di sela-sela acara.
Harmoni Sosial di Bulan Suro
Bertepatan dengan momentum bulan Suro (Muharram) yang dalam kosmologi Jawa dikenal sarat akan muatan refleksi diri dan kesucian spiritual, kegiatan kolosal ini sukses menyedot antusiasme ratusan warga.
Di luar aspek ritus keagamaan, pelataran Simo Kalangan bertransformasi menjadi ruang komunal yang mempertemukan simpul silaturahmi lintas generasi.
Agus menambahkan, figur Mbah Roekoen Rekso Mulyo memang melekat di hati warga sebagai sosok yang membumi, dekat dengan masyarakat, dan konsisten pasang badan demi lestarinya kebudayaan lokal di era gempuran modernisasi kota.
Melalui perpaduan sakral antara rapalan doa, gerak tari tradisi, dan ketukan ritmis karawitan, perhelatan ini menjadi saksi bisu bahwa penghormatan tertinggi kepada para leluhur dapat diwujudkan secara elegan.
Yakni dengan menjaga warisan budaya tetap membumi sekaligus mempererat tali persaudaraan horizontal di tengah kemajemukan masyarakat urban Surabaya.
“Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kerukunan serta keberkahan,” pungkas Agus.












