Nganjuk, Jatimmandiri.id – Semangat pelestarian budaya leluhur kembali bergelora di bumi Anjuk Ladang.
Tradisi Haul Kanjeng Jimat ke-266 yang digelar di Desa Berbek, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, berlangsung meriah dan penuh kehangatan kekeluargaan pada Jumat (10/7/2026).
Di balik kemegahan acara tahunan ini, ada kisah keteguhan hati dari HM Aris Mujiono SH MH atau yang akrab disapa Bopo Aris.
Tokoh masyarakat sekaligus Ketua Panitia ini rela merogoh kocek pribadi demi memastikan warisan sejarah dan tradisi luhur desa tetap hidup dan tidak padam tergerus zaman.
Acara sakral ini dibuka langsung oleh Bupati Nganjuk Marhen Djumadi. Pembukaan ditandai dengan prosesi simbolis penyerahan Pecut Samandiman kepada Bopo Aris, yang juga merupakan pimpinan kelompok seni reog dan jaranan yang tampil memukau sejak pagi.
Kehadiran orang nomor satu di Nganjuk ini menjadi bentuk legitimasi dan dukungan moral yang kuat terhadap inisiatif swadaya masyarakat dalam menjaga identitas daerah.
“Saya sangat bangga dan mengapresiasi langkah Bopo Aris yang rela merogoh kocek sendiri demi menghidupkan budaya di desanya. Ini adalah bukti kecintaan yang luar biasa terhadap warisan nenek moyang. Tradisi Haul Kanjeng Jimat ini harus terus dijaga, karena merupakan identitas dan kekayaan berharga yang dimiliki oleh masyarakat Nganjuk,” ujar Bupati Marhen Djumadi kepada wartawan.
Haul Kanjeng Jimat tahun ini dikemas secara dinamis dengan memadukan unsur kebudayaan lokal dan kegiatan keagamaan yang menyatukan seluruh elemen masyarakat.
Berikut adalah rangkaian kegiatannya:
- Jumat Pagi (10/7/2026): Pentas seni tradisional Reok Gembong Asmoro dan Jaranan Turonggo Wilis.
- Jumat Malam: Gema Sholawat Nabi yang diikuti oleh warga dengan khidmat.
- Sabtu Malam (11/7/2026): Penutupan berupa Istighosah bersama Majlis Munajat Agitsni dan Al Bahry yang melibatkan para pegiat budaya serta masyarakat luas.
Bagi Bopo Aris, pengorbanan materi dan tenaga yang dikeluarkannya bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah panggilan jiwa.
Ia berharap gerakan ini memicu sinergi yang lebih kuat antara masyarakat dan pemerintah untuk menjaga keberlanjutan tradisi di masa depan.
“Ini adalah kewajiban dan keinginan hati saya sendiri. Saya rela mengeluarkan biaya pribadi semata-mata supaya tradisi ini tetap hidup, tetap berkembang, dan tidak hilang dari Desa Berbek. Semoga ke depannya kita semua bisa terus bersatu menjaga budaya ini,” ungkap Bopo Aris dengan penuh harap.
Melalui momentum ini, Pemerintah Kabupaten Nganjuk kembali menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penuh pelestarian tradisi lokal di seluruh wilayah pedesaan.
Langkah ini dinilai strategis tidak hanya untuk merawat nilai-nilai luhur, tetapi juga untuk mempererat tali persaudaraan dan gotong royong di tengah masyarakat.






