Surabaya, Jatimmandiri.id – Perbedaan budaya dan cara pandang tidak menjadi penghalang bagi Teater Api Indonesia dan kelompok seni asal Jerman, Tan.Going, untuk melahirkan pertunjukan lintas negara. Melalui karya Kopral Sudrun, kedua kelompok tersebut mempertemukan eksplorasi estetika dengan kritik terhadap persoalan sosial dan krisis lingkungan yang dihadapi masyarakat global.
Kolaborasi tersebut dipentaskan di Gedung Cak Durasim, Surabaya, Senin (2/11) malam. Pementasan ini menghadirkan pendekatan artistik yang tidak sekadar mengejar keindahan visual, tetapi juga menyampaikan kegelisahan terhadap realitas kehidupan melalui bahasa tubuh, ruang, dan benda-benda panggung.
Sutradara Teater Api Indonesia, Luhur Kayungga, mengatakan proses penyatuan gagasan menjadi tantangan tersendiri. Kedua kelompok memiliki latar belakang budaya, pola pikir, serta karakter estetika yang berbeda. Teater Api cenderung mengangkat persoalan sosial melalui ekspresi keras, sedangkan kelompok Jerman memiliki pendekatan estetika yang berbeda.
“Teater Api memiliki karakter konsep yang cenderung keras dan berat. Pihak mitra dari Jerman yang berangkat dari latar belakang estetika kemapanan sempat merasa wacana kekerasan tersebut mengganggu. Namun bagi kami, realitas sosial dan tekanan masif lokal memang menuntut hadirnya estetika kritis untuk menyuarakan persoalan,” ujar Luhur usai pertunjukan.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan waktu latihan. Kelompok Tan.Going tiba di Surabaya sekitar dua minggu sebelum pementasan dan harus membagi waktu dengan persiapan pertunjukan mandiri pada 1 November. Karena itu, proses kreatif lebih diarahkan pada diskusi mengenai prinsip dasar pertunjukan untuk menemukan kesepahaman artistik.

Karya Kopral Sudrun menggunakan pendekatan teater impresif nonlinier. Penonton tidak disuguhi cerita dengan alur konvensional, melainkan diajak menangkap makna melalui gerak tubuh aktor, penggunaan properti, serta rangkaian adegan yang membangun pengalaman visual dan emosional.
Sebelum pementasan, gagasan kolaborasi tersebut telah diperkenalkan melalui Artist Talk di Wisma Jerman, Surabaya, Jumat (30/10/2026). Diskusi menghadirkan Luhur Kayungga dan sutradara Tan.Going Performance, Peter Ohrt.
Peter mengaku mendapatkan pengalaman tersendiri ketika pertama kali tiba di Surabaya. “Surabaya itu berisik,” ujarnya, menggambarkan suasana kota sekaligus menyoroti pekatnya polusi udara. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai karakter pertunjukan Teater Api yang keras dan cenderung fatalistik.
Luhur menegaskan, dialog menjadi kunci kolaborasi tanpa harus menyeragamkan identitas artistik masing-masing kelompok. Perbedaan justru membuka ruang eksplorasi baru.
Setelah pementasan di Surabaya, Teater Api Indonesia dijadwalkan melanjutkan keterlibatan dalam festival seni lingkungan di Gresik yang menghadirkan seniman dari berbagai negara












