Dalam Negeri

Khofifah Ajak Daiyah Muslimat NU Jatim Berhijrah ke Dakwah Digital

×

Khofifah Ajak Daiyah Muslimat NU Jatim Berhijrah ke Dakwah Digital

Sebarkan artikel ini
Khofifah Indar Parawansa, Muslimat NU, Muslimat NU Jawa Timur, dakwah digital, HIDMAT Muslimat NU, Ikatan Haji Muslimat NU, Aswaja, Nahdlatul Ulama, media sosial, literasi digital, Gen Z, UMKM digital, parenting digital, Kota Batu, PW Muslimat NU Jawa Timur, Masruroh Wahid, dakwah Islam, teknologi digital, Islam moderat, majelis taklim
Example 468x60

Batu, Jatimmandiri – Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh daiyah Muslimat NU Jawa Timur melakukan transformasi dakwah dari metode konvensional menuju dakwah digital.

Langkah tersebut dinilai penting agar syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) mampu menjangkau masyarakat lebih luas di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Ajakan itu disampaikan Khofifah saat menjadi keynote speaker pada Silaturahim Himpunan Da’iyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) serta Ikatan Haji Muslimat (IHM) NU Jawa Timur bertema “Muslimat NU Berhijrah Menuju Dakwah Digital untuk Peradaban” di Royal Orchids Garden Hotel, Kota Batu, Sabtu (11/7).

Menurut Khofifah, forum tersebut memiliki arti strategis karena mempertemukan para daiyah, penggerak majelis taklim, dan kader Muslimat NU yang selama ini menjadi garda terdepan dalam dakwah serta pendidikan keagamaan di tengah masyarakat.

“Muslimat NU memiliki kekuatan besar pada bidang sosial keagamaan, terutama melalui majelis taklim. Para nyai selalu ingin memperbarui materi sekaligus metode dakwah agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

Khofifah menjelaskan, transformasi dakwah sebenarnya telah dimulai sejak masa pandemi Covid-19. Saat itu, masyarakat mulai terbiasa belajar, berkomunikasi, dan mengikuti kajian agama melalui platform digital.

Karena itu, menurutnya, dakwah tidak lagi cukup dilakukan dari mimbar masjid atau majelis taklim, tetapi juga harus hadir di berbagai ruang digital dan media sosial yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

“Kesadaran untuk bertransformasi sudah semakin kuat. Dakwah kini harus berpindah dari mimbar fisik menuju mimbar digital agar dapat menjangkau lebih banyak jamaah,” katanya.

Ia menilai dakwah digital memiliki jangkauan yang sangat luas. Melalui internet, materi dakwah dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

Baca Juga  Kapolri Tinjau Pabrik Pupuk Batu Bara di Kampar, Lepas Distribusi 80 Ton Pupuk untuk Petani Riau

“Jika dakwah dilakukan secara digital, masyarakat bisa mengaksesnya kapan pun. Di Indonesia saja ada sekitar 250 juta pengguna yang berpotensi menerima dakwah. Bahkan secara global jangkauannya mencapai miliaran orang,” jelas Khofifah.

Ia juga mengutip sejumlah hasil penelitian yang menunjukkan lebih dari 60 persen pengguna media sosial mencari referensi keagamaan melalui platform digital. Kondisi tersebut menjadi peluang besar bagi Muslimat NU untuk menghadirkan konten yang moderat, menyejukkan, dan mencerdaskan.

“Kalau ruang digital dipenuhi konten yang membawa kesejukan dan pencerahan, maka dakwah Ahlussunnah wal Jamaah akan semakin luas manfaatnya,” tegasnya.

Khofifah juga mendorong kolaborasi lintas generasi di lingkungan Muslimat NU. Menurutnya, pengalaman para daiyah senior perlu dipadukan dengan kreativitas generasi muda agar pesan dakwah lebih mudah diterima, khususnya oleh kalangan Generasi Z (Gen Z).

Ia menilai penyusunan konten dakwah harus disesuaikan dengan karakter audiens. Jika menyasar Gen Z, maka tema, bahasa, hingga format penyajiannya harus mengikuti kebiasaan generasi tersebut.

“Konten dakwah untuk Gen Z harus dekat dengan kehidupan mereka. Format animasi, ilustrasi, hingga penggunaan musik latar yang tepat bisa membuat pesan dakwah lebih menarik dan mudah dipahami,” ujarnya.

Khofifah mencontohkan, materi dakwah dapat dikemas dengan pesan-pesan yang membangun optimisme, seperti mengajak anak muda untuk tidak mudah putus asa serta selalu memiliki harapan dalam menghadapi masa depan.

Selain itu, ia mengingatkan agar Muslimat NU tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga menjadi produsen konten yang menyebarkan nilai-nilai kebaikan sekaligus menangkal hoaks dan disinformasi.

“Muslimat NU harus menjadi produsen narasi yang menyejukkan, mencerdaskan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Untuk mendukung transformasi tersebut, Khofifah menawarkan empat strategi utama, yakni memperkuat literasi digital, memproduksi konten positif, mengembangkan UMKM berbasis digital sebagai penguatan ekonomi umat, serta membangun parenting digital guna melindungi generasi muda dari dampak negatif ruang siber.

Baca Juga  Prosedur Pendaftaran SMA/SMK Negeri Masih Bebani Warga Miskin, Dewan Surabaya Desak Pemprov Benahi Sistem

Ia optimistis Muslimat NU memiliki modal besar untuk mewujudkan transformasi tersebut. Selain memiliki jutaan anggota, organisasi ini juga didukung ribuan majelis taklim, lembaga pendidikan, PAUD, koperasi, UMKM, hingga jaringan kader yang tersebar sampai tingkat desa.

“Jika seluruh potensi itu terkoneksi secara digital, Muslimat NU akan menjadi salah satu kekuatan dakwah terbesar di Indonesia,” ungkapnya.

Khofifah juga menyoroti sejumlah program unggulan Muslimat NU, seperti Paralegal, Akademi Pendidikan Muslimat NU (APMNU), Pesantren Ramadan Balita, Mustika, hingga Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H). Menurutnya, berbagai program tersebut menjadi fondasi kuat untuk memperluas manfaat organisasi di era digital.

Sementara itu, Ketua PW Muslimat NU Jawa Timur, Masruroh Wahid, mengatakan kegiatan Silaturahim HIDMAT dan Ikatan Haji Muslimat NU Jatim menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyatukan langkah kader dalam menghadapi tantangan dakwah di era digital.

Menurutnya, seluruh kader Muslimat NU memiliki tanggung jawab melanjutkan perjuangan Nahdlatul Ulama melalui pengabdian kepada umat.

“Kita semua berkhidmah untuk umat dan berjuang sesuai dengan tuntutan zaman,” ujarnya.

Masruroh menegaskan dakwah Muslimat NU harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah dapat diterima masyarakat lebih luas.

“Dakwah konvensional harus berhijrah menjadi dakwah digital, sehingga pesan-pesan Islam dapat didengar, dibaca, dan disukai oleh masyarakat dari berbagai kalangan,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *