Surabaya, Jatimandiri.id — Langkah strategis untuk memperluas jangkauan pasar internasional bagi produk hortikultura lokal terus dipacu oleh pemerintah. Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, secara terbuka membidik negara Jepang sebagai target pasar ekspor baru bagi komoditas mangga asal Provinsi Jawa Timur.
Guna merealisasikan target besar tersebut, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait tengah bergerak cepat menyiapkan pengembangan kawasan khusus berbasis komoditas unggulan. Langkah ini dibarengi dengan upaya penyelesaian berbagai hambatan teknis yang selama ini mengunci akses masuk produk buah segar Indonesia ke Negeri Sakura.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Iftitah saat menghadiri agenda Festival Ekosistem Ekonomi Digital (FYC Fest) di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu (11/7/2026).
Cita Rasa Premium dan Diplomasi Mangga Jawa Timur
Menurut penilaian Iftitah, varietas mangga lokal seperti mangga alpukat asal Pasuruan serta mangga arumanis dari Probolinggo memiliki keunggulan kualitas yang sangat kompetitif. Keduanya dinilai memiliki potensi raksasa untuk merajai pasar hortikultura internasional. “Saya pernah mencicipi mangga dari berbagai negara, mulai dari Pakistan, Thailand, India, Cina, Meksiko sampai Brasil. Tapi menurut saya, tidak ada yang mengalahkan manisnya mangga Jawa Timur,” ungkap Iftitah dalam keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (12/7/2026).
Kualitas premium buah khas Jawa Timur ini bahkan telah diuji melalui jalur diplomasi informal. Iftitah mengungkapkan bahwa dirinya kerap mengirimkan paket mangga Jawa Timur kepada para duta besar negara sahabat, termasuk duta besar Amerika Serikat, Tiongkok, dan Australia. Seluruh respons yang kembali diterima bernada sangat positif, dengan pujian tinggi pada kekuatan cita rasa dan kualitas fisik buah.
Tantangan Regulasi Lalat Buah dan Transformasi Transmigrasi
Meski memiliki keunggulan rasa, penetrasi ke pasar Jepang tidaklah mudah. Akses perdagangan buah ke negara tersebut terganjal oleh aturan karantina dan standar higienitas yang super ketat, khususnya terkait proteksi dari hama lalat buah. “Salah satu tantangan utamanya adalah masalah lalat buah. Kami sedang bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengatasinya. Memang membutuhkan biaya, tetapi saya yakin kalau hambatan ini bisa diselesaikan, pasar Jepang akan terbuka dan masyarakat Jepang akan menyukai mangga Indonesia,” ucap Iftitah optimis.
Sebagai solusi jangka panjang, Kementrans kini menerapkan paradigma baru dalam pembangunan kawasan transmigrasi melalui sistem ekosistem berbasis komoditas unggulan. Fokus setiap wilayah transmigrasi kini ditata secara vertikal, mulai dari proses budidaya di hulu, pengolahan pascapanen, hingga urusan pemasaran dan ekspor di hilir.
Iftitah menegaskan, orientasi transmigrasi zaman kini telah bergeser. Program ini tidak lagi sekadar memindahkan persebaran penduduk, melainkan mencetak pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menyerap tenaga kerja lokal secara masif.
Dukungan Pemprov Jatim dan Penguatan Promosi Digital
Rencana ekspansi pasar ekspor ini mendapat respons positif dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyatakan dukungan penuh atas kolaborasi yang digagas oleh Kementerian Transmigrasi. Emil menekankan bahwa kesuksesan membawa komoditas daerah ke pasar global menuntut sinergi terintegrasi antara birokrasi, pelaku usaha, media massa, serta para kreator digital.
Era modern saat ini menempatkan promosi media sosial dan konten kreatif sebagai instrumen vital untuk membangun reputasi merek (brand image) produk unggulan Indonesia di mata dunia. Melalui integrasi kawasan komoditas dan kerja sama lintas sektor ini, Kementrans optimistis produk-produk bernilai tambah tinggi hasil kawasan transmigrasi dapat melenggang ke pasar internasional sekaligus menggerakkan roda perekonomian daerah secara berkelanjutan. (*)