Menanam Pangan Sendiri di Kebun Dasawisma
Diyah Rahmawati mengembangkan kebun komunal agar keluarga dapat menanam pangan sendiri dan petani memiliki peluang pasar di Kota Malang. Gagasan itu tumbuh dari usaha pertanian organik yang ia rintis di pekarangan rumah, lalu dikembangkan bersama warga dan petani Malang Raya.
————————-
Proyek kebun komunal tersebut menjadi bagian dari capstone project SDG Certified Leadership Program 2026 yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas. Diyah merencanakan satu Dasawisma sebagai percontohan. Jika berjalan baik, modelnya akan diperluas ke komunitas lain.
Langkah pertama adalah membantu keluarga dengan memenuhi kebutuhan pangan mereka. Ketika kebun sudah stabil, warga dapat belajar mengelola kelebihan panen dan terhubung dengan jaringan pemasaran. Diyah juga berencana mengenalkan literasi keuangan secara bertahap.
Ia berharap kebun komunal membuka jalan bagi warga yang belum menjadi pelanggan Abang Sayur Organik atau peserta pelatihan pertanian organik. Dengan begitu, lebih banyak orang dapat terlibat tanpa harus memulai sebagai pembeli. “Kalau misalnya ada over-produksi, jangan dijual dulu. Bagikan ke RT-RT yang belum mengaktivasi agar mereka juga bisa,” tutur Diyah seperti dikutip Antara.
Perjalanan itu bermula lebih dari satu dekade lalu. Setelah mengalami eklampsia saat hamil dan menjalani perawatan di rumah sakit, Diyah semakin terdorong memperluas akses terhadap pangan sehat.
Ia meyakini kebiasaannya mengonsumsi pangan organik membantu pemulihannya. “Sepertinya, saya ini hanya tubuh yang dipinjam untuk memperkenalkan pertanian organik,” katanya.
Diyah mula-mula menanam sayuran di lahan enam meter persegi di halaman rumah. Minat warga di sekitarnya mendorongnya menyewa lahan seluas 1.000 meter persegi di Kelurahan Cemorokandang.
Dari sana, ia membangun usaha sosial Abang Sayur Organik. Usahanya kini menjual hasil panen langsung kepada konsumen dan memasok pelanggan usaha. Diyah juga bermitra dengan petani Malang Raya serta membeli hasil panen mereka dengan harga pantas.
Produknya berkembang dari sayuran menjadi beras organik, umbi, telur ayam kampung, tempe, dan olahan sehat. Di kebunnya, setiap bedeng dilengkapi kode QR yang terhubung dengan catatan harian petani. Catatan itu memuat jenis tanaman, perawatan, dan hasil panen.
Diyah mulai menerapkan cara serupa bersama petani mitra untuk memahami kondisi kebun masing-masing. “Merawat sayur organik itu seperti kita merawat manusia,” ujarnya.
Diyah menyadari harga pangan organik belum mudah dijangkau semua keluarga. Karena itu, selain menjual hasil panen, ia membuka pelatihan agar warga dapat menanam di pekarangan sendiri.
Ia juga mendorong pemanfaatan sisa sayuran melalui komposter rumah tangga. Dalam rencana berikutnya, Diyah ingin mempelajari cara mengurangi kehilangan dan pemborosan pangan, termasuk penggunaan rantai dingin untuk membantu petani menjaga hasil panen.
Bagi Diyah, kebun komunal dapat menjadi tempat warga belajar bersama: memenuhi kebutuhan keluarga lebih dulu, berbagi ketika panen berlebih, lalu membangun pasar ketika produksinya siap. (ibn)












