JatimKesehatan

Kasus Kekerasan Anak Melonjak, Pemkab Bangkalan Kerahkan 4.576 Kader Posyandu

Penulis: YudiEditor: Alif Bintang
×

Kasus Kekerasan Anak Melonjak, Pemkab Bangkalan Kerahkan 4.576 Kader Posyandu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi sosialisasi oleh kader posyandu.
Example 468x60

Bangkalan, Jatimmandiri.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangkalan mengambil langkah agresif guna mengantisipasi maraknya kasus kekerasan seksual pada anak.

Sebanyak 4.576 kader pos pelayanan terpadu (posyandu) disiagakan di seluruh pelosok wilayah untuk memperkuat benteng pencegahan dari tingkat keluarga.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Bangkalan, Sudiyo, mengungkapkan bahwa langkah darurat ini diambil menyusul tren peningkatan kasus kekerasan seksual pada anak yang cukup mengkhawatirkan akhir-akhir ini.

“Gerakan ini kami lakukan, karena berdasarkan data, kasus kekerasan seksual pada anak di Kabupaten Bangkalan akhir-akhir ini cenderung meningkat,” kata Sudiyo, Rabu (9/9/2026).

Data DKP3A mencatat lonjakan kasus yang sangat signifikan di kabupaten paling barat Pulau Madura ini.

Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 29 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Namun, angka tersebut melonjak tajam menjadi 60 kasus hanya dalam kurun waktu Januari hingga Agustus 2026.

“Jadi, kalau dibanding dengan data tahun sebelumnya, peningkatannya sangat drastis. Padahal data kekerasan sebanyak 60 kasus itu, belum satu tahun, yakni mulai Januari hingga Agustus,” katanya.

Berdasarkan pemetaan dinas, para pelaku melancarkan aksinya dengan berbagai modus.

Sebagian besar kasus justru melibatkan orang-orang di lingkungan terdekat korban, mulai dari ranah domestik hingga lembaga pendidikan.

“Yang menjadi catatan, kebanyakan kasus yang terjadi selama ini dilakukan oleh orang yang dikenal korban, seperti pasangan sendiri, ayah tiri, tetangga, bahkan guru di sekolahnya,” ungkapnya.

Sudiyo menambahkan, kelompok anak usia remaja pada rentang 12 hingga 18 tahun menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kekerasan maupun pelecehan seksual.

Merespons ancaman tersebut, ribuan kader posyandu kini diterjunkan sebagai garda terdepan.

Mereka dibekali tugas khusus untuk memberikan edukasi langsung kepada orang tua dan anak-anak yang hadir dalam pelayanan kesehatan berkala.

Baca Juga  Gadis Mojokerto Korban Persetubuhan Hamil 7 Bulan, Keluarga Kembali Jalani Pemeriksaan

Edukasi difokuskan pada pemahaman diri, mengenali potensi ancaman, serta cara menghindari kekerasan seksual.

Tak hanya mengandalkan jaringan posyandu, DKP3A juga memperluas jangkauan edukasi dengan menggandeng organisasi masyarakat.

“Selain menggerakkan kader posyandu, kami juga bekerja sama dengan organisasi keagamaan seperti Muslimat dan Fatayat NU Bangkalan terkait upaya mencegah terjadinya kekerasan seksual,” tuntas Sudiyo.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *