Oleh: Ferry Is Mirza (FIM)
Sekertaris DKP Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, referensi tafsir Alquran.
Kita ini sering kasihan sama orang lain. Kasihan sama tetangga yang sakit, kasihan sama anak yang susah cari kerja, kasihan sama pengemis di pinggir jalan.
Itu bagus. Itu tanda hati kita masih lembut.
Tapi pernahkah kita berpikir, justru orang yang paling patut dikasihani adalah diri kita sendiri ?
Kenapa?
Karena kita sibuk mengasihani orang, tapi lupa mengasihani diri kita yang sedang berjalan menuju akhirat tanpa bekal yang cukup.
Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah berkata:
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Mari kita jujur Sahabatku:
1. Kasihanilah diri kita, karena umur terus berkurang tapi dosa masih bertumpuk.
Rambut sudah putih, gigi sudah goyang, mata sudah rabun. Itu tanda jatah umur makin pendek. Tapi apakah istighfar kita sudah sebanyak itu ?
Apakah sholat malam kita sudah sejalan dengan uban kita ?
2. Kasihanilah diri kita, karena kita sering menunda taubat.
Besok, besok, besok.
Nanti kalau sudah pensiun saya rajin ngaji. Nanti kalau sudah sembuh saya sholat. Padahal malaikat maut tidak pernah janji menunggu besok.
Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Dan tidak ada seorangpun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.”
(QS. Luqman: 34)
3. Kasihanilah diri kita, karena kita masih sibuk dengan urusan manusia tapi lalai urusan Allah Wa Ta’ala.
Kita takut tidak dipuji manusia, tapi tidak takut tidak dicintai Allah Wa Ta’ala.
Kita sibuk mengejar pujian, jabatan, harta.
Padahal semua itu akan ditinggalkan.
Jangan sibuk kasihan sama orang lain,
Kasihanilah dirimu yang masih lalai dan belum tahu malu.
Jadi apa yang harus kita lakukan mulai hari ini ?
Pertama, kasihani diri dengan taubat.
Jangan tunggu Ramadhan, jangan tunggu sakit. Hari ini istighfar yang sungguh-sungguh.
Kedua, kasihani diri dengan memperbaiki sholat.
Sholat adalah tiang agama. Kalau tiangnya rapuh, ambruk semua amal.
Ketiga, kasihani diri dengan menjaga lisan.
Di usia saat ini, jangan sampai mulut kita yang sudah semakin tua ini masih suka ghibah, masih suka nyinyir, masih suka menyakiti hati orang.
Satu kalimat buruk bisa menghapus pahala bertahun- tahun.
Keempat, kasihani diri dengan sedekah.
Sedekah itu bukan untuk orang yang menerima, tapi untuk kita yang memberi. Itu tabungan akhirat kita.
Kasihani diri kita bukan berarti putus asa. Justru ini bentuk cinta kepada diri sendiri yang sesungguhnya.
Cinta yang menyelamatkan kita dari api neraka dan mengantarkan ke surga.
Sebelum kita mengasihani orang lain, tanya dulu ke hati kita:
Sudahkah aku mengasihani diriku sendiri yang akan berdiri sendirian di hadapan Allah Wa Ta’ala nanti?
In syaa Allah, Allah Wa Ta’ala jadikan sisa umur kita yang berkah, untuk taubat, untuk ibadah, untuk bekal pulang.
Allahumma Sholli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Wa ‘ala Aali Sayyidina Muhammad
Yaa Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki hari Jumat pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu mampukan kami menunaikan sholat Jumat. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).
Yaa Allah, aku memohon kekuatan dariMu karena kelemahan kami, kekayaan dariMu karena kefakiran dan kepapaan kami, dan kearifan dan ilmu dariMu karena kejahilan kami.
Yaa Allah, sampaikanlah shalawat kepada Rasulallah Shalallahu Alaihi Wasallam dan keluarganya dan bantulah kami supaya dapat bersyukur dan berzikir padaMu, dengan rahmatMu wahai Yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi.
Robbana Taqobbal Minna
Yaa Allah terimalah amalan kami, aamiin.
fimdalimunthe55@gmail.com












