Edu-Life & Sportꦧꦸꦢꦪ

Jelajah Sejarah Borobudur Lewat Pengalaman Imersif

Penulis: AyundaEditor: Ayunda
×

Jelajah Sejarah Borobudur Lewat Pengalaman Imersif

Sebarkan artikel ini
Salah satu panel imersif yang dihadirkan dalam "Purwacarita Borobudur" di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, di Jakarta.
Example 468x60

Jakarta, Jatimmandiri.id – Sejarah Candi Borobudur kini dapat dinikmati melalui pengalaman visual yang lebih interaktif. Galeri Indonesia Kaya menghadirkan Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, yang menggabungkan riset sejarah, budaya, dan teknologi ethical AI.

Karya imersif yang dapat dikunjungi sepanjang September hingga Desember tersebut mengajak masyarakat menelusuri asal mula penciptaan Candi Borobudur. Pengalaman itu dikemas melalui delapan fitur yang ditampilkan di berbagai ruang dan panel dalam galeri.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Program ini digarap Galeri Indonesia Kaya bersama Bening Digital Indonesia dan Curaweda. Riset serta fakta sejarah yang telah tervalidasi menjadi dasar dalam penyusunan narasi, sementara teknologi kecerdasan buatan digunakan untuk membantu menghadirkan visualisasi sejarah.

Founder dan CEO Curaweda Azhfar Muhammad Fuad mengatakan penggunaan AI dalam karya tersebut tetap bertumpu pada riset mendalam yang dilakukan para pakar.

Pengunjung diajak mengenal asal mula Kāmulan i Bhūmisambhāra, nama yang disebut dalam prasasti kuno dan dikenal sebagai Candi Borobudur. Selain itu, pengunjung dapat menyelami gambaran kosmologi Borobudur melalui sejumlah bentuk interaksi.

Founder dan CEO Curaweda Azhar Muhammad Fuad (paling kiri), Direktur Program Galeri Indonesia Kaya Renitasari Adrian (kedua kiri) , President Director Bening Digital Indonesia Lia Marliana (kedua kanan) dan kurator dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Sri Margana (paling kanan) dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/9/2026)

Fitur pertama, Sapa Borobudur, menjadi pintu masuk untuk mengenal lanskap serta suasana zaman ketika Borobudur didirikan. Selanjutnya, Karmawibhangga dan Avadana membawa kisah yang terdapat dalam kedua relief tersebut ke dalam bentuk teater imersif.

Pengalaman berikutnya hadir melalui Batu Carita. Di fitur ini, pengunjung dapat berinteraksi dengan empat tokoh, yakni Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara.

Sementara itu, Mandala menawarkan pengalaman berbeda. Pengunjung diajak mengitari Borobudur menggunakan gawai masing-masing sekaligus mengikuti kembali rute sakral yang dahulu ditempuh para peziarah dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk.

Fitur kelima, Jelajah Borobudur, membawa pengunjung dalam petualangan mengenal Borobudur beserta candi-candi yang berada di sekitarnya.

Baca Juga  Mendiktisaintek: Dosen Harus Mendampingi, Bukan Mengambil Alih

Berikutnya, Buku Carita mengangkat perjalanan Putri Pramodhawardhani dalam memahami tujuan ayahnya, Raja Samaratungga, ketika membangun Borobudur.

Pengalaman ketujuh ditawarkan melalui Harmoni Borobudur. Fitur ini menghadirkan gambaran lingkungan alam Borobudur pada masa lalu, lengkap dengan sejumlah satwa seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah. Satwa-satwa tersebut dapat merespons gerakan pengunjung melalui sensor yang tersedia.

Adapun sajian utama berada di Auditorium Galeri Indonesia Kaya melalui Asal Mula Borobudur The Movie. Tayangan tersebut membawa pengunjung lebih dekat dengan kisah di balik pembangunan Candi Borobudur sekaligus cerita yang terkandung dalam relief-reliefnya.

Direktur Program Galeri Indonesia Kaya Renitasari Adrian mengatakan pendekatan visual menjadi salah satu alasan teknologi AI dimanfaatkan dalam penyajian sejarah kepada masyarakat, terutama generasi muda.

“Kita semua juga kan menyadari kita pada kurang suka baca orang Indonesia itu kan, lebih senangnya visual, apalagi anak muda sekarang kan. Jadi pada saat konsep ini dikasih lihat ke kita, dan AI ini sekarang semua tuh sedang berkembang, justru kita melihatnya juga, ya itu tadi, AI ini sangat berguna sekali untuk kami yang ingin menyambungkan sejarah masa lalu dengan generasi sekarang,” kata Renitasari dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/09), seperti dikutip dari Antara.

Melalui Purwacarita Borobudur, sejarah tidak hanya disampaikan melalui teks, tetapi juga melalui visual, suara, interaksi digital, dan pengalaman ruang. Pendekatan tersebut diharapkan membuat kisah tentang Borobudur lebih mudah dijangkau sekaligus menarik bagi masyarakat dan generasi muda.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Menelusuri Jejak Peradaban Kuno Setelah ribuan tahun, Atlantis belum dapat ditempatkan sebagai fakta sejarah karena belum ada reruntuhan, artefak, prasasti,…