Jakarta, Jatimmandiri.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mewanti-wanti para dosen untuk memposisikan diri sebagai pendamping dan tidak mengambil alih porsi kerja mahasiswa saat terjun ke tengah-tengah masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikannya saat memberikan arahan dalam Peluncuran Mahasiswa Berdampak: Program Aksara Mahasiswa Tahun 2026 yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (20/07).
“Dosen jangan sampai mengambil alih peran mahasiswa, melainkan hadir sebagai pembimbing akademik, menjaga mutu, penghubung hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat, dan tentunya menjadi teladan integritas,” katanya seperti dikutip dari Antara.
Brian memaparkan bahwa esensi dari program pemberdayaan masyarakat ini adalah menempatkan mahasiswa sebagai aktor atau pelaku utama perubahan, sementara perguruan tinggi hadir untuk memfasilitasi dukungan kelembagaan.
Lebih lanjut, ia juga menginstruksikan kepada jajaran pimpinan perguruan tinggi untuk mengonversi kerja keras mahasiswa di desa sasaran agar diakui ke dalam Sistem Kredit Semester (SKS).
“Jangan sampai tidak terdapat SKS yang bisa diambil oleh mahasiswa. Perguruan tinggi yang unggul tidak hanya dikenal karena reputasi akademiknya, keunggulan itu juga terlihat dari perubahan yang dapat dihadirkan bagi masyarakat,” ujarnya.
Mendiktisaintek juga menekankan bahwa Program Mahasiswa Berdampak tidak boleh dipandang semata-mata sebagai kompetisi antar-kampus untuk memperebutkan kucuran dana dari kementerian.
Program ini, tuturnya, harus dimaknai sebagai ruang aktualisasi diri bagi mahasiswa untuk melatih kepekaan sosial, keberanian mengambil keputusan, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab.
Antusiasme ekosistem kampus terhadap inisiatif ini terbukti sangat tinggi. Brian mencatat, pada pelaksanaan Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (PMBEM) tahun 2025 lalu, Kemdiktisaintek menerima 957 usulan proposal, di mana 263 di antaranya berhasil didanai dengan total anggaran mencapai Rp30,1 miliar.
Berbekal kesuksesan tersebut, Brian menaruh harapan besar agar kolaborasi mahasiswa dan dosen pada tahun ini dapat menciptakan kapasitas kemandirian dan semangat gotong royong masyarakat yang berkelanjutan.
“Kepemimpinan mahasiswa tidak dimulai setelah wisuda, justru kepemimpinan dimulai ketika rekan-rekan mahasiswa berani hadir, mendengar, dan mengambil tanggung jawab nyata bagi masyarakat sekitar,” tutur Brian Yuliarto.












