Lumajang, Jatim Mandiri,
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jatim, didominasi gempa erupsi atau letusan. Berstatus Level III (Siaga), Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru menegaskan bahwa wilayah dengan radius 5 kilometer dari kawah seharusnya steril dari aktivitas masyarakat.
Kebijakan itu menjadi tindak lanjut seiring tingginya aktivitas vulkanik gunung dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut. Masyarakat diminta mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengatakan kawasan tersebut masih berpotensi terdampak bahaya lontaran material pijar. “Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar),” kata Liswanto dalam keterangan yang diterima Antara, Kamis (16/7).
Selain itu, masyarakat juga diimbau tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar kawasan tersebut, masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Liswanto juga meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai maupun lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. “Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” kata dia.
Pengamatan kegempaan juga dilakukan pada Kamis (16/7) pukul 00.00–06.00 WIB. Hasilnya, Gunung Semeru mengalami 15 kali gempa erupsi, atau letusan dengan amplitudo 13–22 mm, dan lama gempa 71–158 detik. Selain itu, tercatat lima kali gempa guguran dengan amplitudo 2–4 mm dan durasi 37–87 detik.
“Semeru juga mengalami 3 kali gempa embusan dengan amplitudo 3-8 mm, satu kali harmonik dengan amplitudo 5 mm, dan dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8-11 mm,” kata Liswanto dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Aktivitas gempa erupsi juga mendominasi pengamatan selama Rabu (15/7) pukul 00.00–24.00 WIB. Dalam periode tersebut tercatat 66 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10–23 mm.
“Awan panas guguran terjadi satu kali dengan amplitudo 22 mm dan lama gempa 187 detik, kemudian 16 kali gempa guguran dengan amplitudo 1-6 mm dan lama gempa 32-91 detik,” katanya.
Pada periode yang sama, Gunung Semeru juga mengalami 11 kali gempa hembusan dengan amplitudo 2–8 mm, delapan kali gempa harmonik dengan amplitudo 1–15 mm, serta tiga kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 11–13 mm, S-P 17–21 detik dan lama gempa 31–64 detik.
Sementara itu, berdasarkan data petugas, sejak Kamis pukul 00.42 WIB hingga 06.15 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami tujuh kali erupsi dengan tinggi kolom letusan berkisar 700 meter hingga 1.100 meter di atas puncak. (ant/ibn)












