Jateng

Harga Sembako di Pasar Rembang Turun Selama Program MBG Libur, Daya Beli Warga Meningkat

×

Harga Sembako di Pasar Rembang Turun Selama Program MBG Libur, Daya Beli Warga Meningkat

Sebarkan artikel ini
Harga kebutuhan pokok di Pasar Rembang menurun, diduga karena pengaruh MBG berhenti sementara.
Example 468x60

Rembang, Jatimmandiri.id, –  Harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Kota Rembang mulai menunjukkan tren penurunan pada awal Juli 2026.

Sejumlah pedagang mengaku harga komoditas seperti telur, cabai, bawang merah, hingga minyak goreng curah mengalami koreksi cukup signifikan.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Mereka menduga kondisi tersebut berkaitan dengan liburnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur sekolah yang membuat permintaan bahan pangan menurun.

Penurunan harga paling mencolok terlihat pada komoditas telur dan cabai. Para pedagang menyebut berkurangnya pembelian dari dapur MBG membuat pasokan di pasar kembali melimpah sehingga harga perlahan bergerak turun. Meski demikian, mereka berharap harga tetap berada pada tingkat yang wajar agar tidak merugikan petani maupun memberatkan masyarakat.

Salah seorang pedagang sembako di Pasar Kota Rembang, Nurwiyati Mukmin, mengatakan harga telur kini turun menjadi Rp23.000 per kilogram setelah sebelumnya mencapai Rp30.000 per kilogram.

Tidak hanya telur, harga bawang merah juga mengalami penurunan dari Rp60.000 menjadi Rp40.000 per kilogram. Sementara itu, bawang putih masih bertahan pada harga yang relatif stabil.

“Kalau bawang putih stabil,” ujar Nurwiyati, Rabu (1/7/2026).

Komoditas lain yang ikut mengalami penurunan ialah minyak goreng curah. Harganya turun dari Rp22.000 menjadi Rp20.000 per liter. Berbeda dengan minyak goreng kemasan yang hingga kini masih dipasarkan dengan harga sekitar Rp21.000 per liter.

“Untuk minyak goreng kemasan masih stabil di angka Rp21.000 mas,” imbuhnya.

Harga cabai juga mengalami koreksi cukup besar. Cabai rawit yang sebelumnya dijual Rp30.000 per kilogram kini turun menjadi Rp20.000 per kilogram. Sementara cabai merah turun dari Rp60.000 menjadi Rp40.000 per kilogram.

“Cabai rawit dari Rp30.000 menjadi Rp20.000 per kilogram, lalu cabai merah dari Rp60.000, sekarang tinggal Rp40.000 per kilogram,” jelas Nurwiyati.

Baca Juga  Emak-Emak Karanganyar Antusias Serbu "Pikap Bahagia", Beras Murah Bikin Senyum Merekah

Menurut Nurwiyati, banyak pedagang meyakini turunnya harga dipicu berhentinya sementara aktivitas dapur MBG selama libur sekolah. Berkurangnya permintaan membuat harga kembali bergerak turun.

Ia bahkan mengaku lebih memilih kondisi tanpa aktivitas MBG karena dinilai membuat harga bahan pokok lebih stabil sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

“Soalnya kalau ada MBG, harga-harga sembako naik, daya beli masyarakat jadi turun. Imbasnya ke pedagang juga,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan pedagang lainnya, Tamijan. Ia menilai telur dan cabai merupakan komoditas yang paling terasa penurunannya.

“Kata-kata dari pedagang itu kan, karena dapur MBG nggak beli barang, akhirnya harga jadi turun. Saya sendiri kebetulan termasuk ikut memasok bahan kebutuhan ke dapur MBG mas,” ujar pedagang asal Desa Waru, Rembang tersebut.

Sementara itu, pedagang lain bernama Juari juga membenarkan bahwa sejumlah harga kebutuhan pokok memang mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Meski begitu, ia menilai daya beli masyarakat belum mengalami peningkatan yang signifikan.

Menurutnya, kondisi ideal adalah harga tidak terlalu rendah sehingga petani tetap memperoleh keuntungan, tetapi juga tidak melonjak tinggi agar masyarakat tidak terbebani.

“Kasihan masyarakat kalau naiknya terlalu tinggi. Yang diharapkan kan nggak terlalu rendah, biar petani merasakan. Nggak terlalu tinggi, agar masyarakat umum tidak terbebani,” ungkap Juari.

Di sisi lain, penurunan harga sembako disambut positif oleh sebagian masyarakat. Salah seorang orang tua murid di Rembang, Purwanti, mengaku merasa lega karena harga kebutuhan pokok mulai lebih terjangkau.

Ia menduga saat program MBG berjalan, pembelian dalam jumlah besar dari pemasok membuat stok di pasar tradisional berkurang sehingga harga meningkat. Ketika program tersebut libur sementara, pasokan kembali normal dan harga ikut menurun.

Baca Juga  Prabowo Tegaskan Tak Ada Ampun bagi Penyelewengan Program Makan Bergizi Gratis

Purwanti berharap pemerintah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG agar manfaatnya lebih tepat sasaran, terutama bagi daerah yang benar-benar membutuhkan.

Menurutnya, jika bantuan diberikan dalam bentuk yang lebih langsung kepada keluarga penerima, perputaran ekonomi di pasar tradisional juga berpotensi meningkat.

“Harusnya MBG bisa tepat sasaran, biar nggak banyak terbuang dan menguras duwit negara, atau ada perubahan, uang diserahkan tunai ke orang tua murid, pasar-pasar tradisional pasti akan ikut ramai. Kita-kita belanja dari pedagang keliling, pedagang keliling kulakan dari pasar. Kalau sekarang, dari pemasok besar sudah diborong MBG, ya ujung-ujungnya rakyat kecil yang kena dampak,” ujar Purwanti.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *