Jakarta, Jatimmandiri.id, – Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) terus bergerak melemah setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada awal 2026. Di tengah tren penurunan tersebut, pengamat menilai kondisi saat ini justru dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat yang ingin mulai berinvestasi logam mulia, asalkan menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi jangka panjang.
Data terbaru pada Kamis (25/6/2026) menunjukkan harga emas Antam di gerai Logam Mulia berada di level Rp2.655.000 per gram atau tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, harga buyback mengalami penurunan cukup signifikan sebesar Rp52.000 per gram, dari Rp2.372.000 menjadi Rp2.320.000 per gram.
Jika dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya, koreksi harga tersebut terlihat semakin nyata. Pada 26 Mei 2026, emas Antam masih diperdagangkan di level Rp2.798.000 per gram dengan harga buyback Rp2.607.000 per gram. Bahkan, pada 29 Januari 2026, logam mulia tersebut sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di angka Rp3.168.000 per gram.
Pelemahan harga emas Antam tidak terlepas dari kondisi pasar global. Harga emas dunia di pasar spot juga terus mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (25/6/2026) pukul 19.15 WIB, harga emas spot berada di level US$3.979,16 per ons troi, turun 5,22 persen dalam sepekan dan melemah 11,53 persen dibandingkan sebulan sebelumnya.
Padahal, pada akhir Januari 2026, harga emas dunia sempat melonjak hingga menyentuh US$5.500 per ons troi sebelum akhirnya mengalami koreksi.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai harga emas Antam masih berpotensi mengalami penurunan dalam jangka pendek. Selain mengikuti pelemahan harga emas dunia, penguatan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor yang menekan harga emas di pasar domestik.
“Pada saat sekarang rupiah cenderung menguat, kemungkinan harga emas Antam juga akan mengalami penurunan. Tetapi bagi saya ini justru kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan pembelian,“ ujar Ibrahim kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).
Meski demikian, Ibrahim memandang prospek investasi emas tetap menjanjikan dalam jangka menengah hingga panjang. Menurutnya, investor tidak perlu ragu memanfaatkan fase koreksi harga untuk mulai mengoleksi logam mulia.
Ia mengingatkan agar pembelian emas dilakukan menggunakan dana dingin atau dana yang tidak dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ibrahim juga mengimbau masyarakat menghindari pembelian emas menggunakan pinjaman, kartu kredit, maupun fasilitas cicilan.
“Kalau membeli emas, gunakan uang yang memang tidak dipakai. Jangan menggunakan pinjaman, kartu kredit atau dana cicilan. Emas itu investasi jangka menengah hingga panjang, hasilnya biasanya baru terlihat dalam tiga sampai lima tahun,” katanya.
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan pelemahan harga emas global dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter di Amerika Serikat. Investor kini memperkirakan Federal Reserve berpotensi menaikkan suku bunga acuan hingga dua kali sepanjang tahun ini, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang hanya satu kali.
Selain itu, penguatan indeks dolar Amerika Serikat juga memberikan tekanan terhadap harga emas dunia. Saat ini indeks dolar AS (DXY) berada di kisaran 101,5, yang secara historis sering kali membuat harga emas bergerak melemah.
“Kalau indeks dolar menguat, biasanya harga emas dunia akan terkoreksi. Pasar saat ini masih menunggu perkembangan inflasi AS, terutama apakah harga minyak dan harga bensin di Amerika benar-benar turun pada Juli nanti,” jelasnya.
Walaupun tren jangka pendek masih cenderung melemah, Ibrahim tetap optimistis harga emas akan kembali menguat pada paruh kedua 2026. Menurutnya, ketidakpastian geopolitik global masih menjadi faktor utama yang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Ia mencontohkan potensi memanasnya kembali hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah berakhirnya masa kesepakatan damai sebagai salah satu sentimen yang dapat mendongkrak harga emas dunia.
Selain itu, peluang penurunan suku bunga oleh Federal Reserve menjelang akhir tahun juga diyakini dapat menjadi katalis positif bagi logam mulia.
Ibrahim memperkirakan harga emas spot berpotensi kembali mendekati level US$5.000 per ons troi pada kuartal III hingga kuartal IV 2026. Sejalan dengan itu, harga emas Antam diproyeksikan mampu kembali menembus kisaran Rp3,2 juta per gram pada akhir tahun.
“Kalau untuk emas Antam, sampai akhir tahun itu kemungkinan besar masih optimis di Rp3.200.000 per gram. Kalau spot di level US$5.000 ya pasti akan ke Rp3.000.000-an,” pungkasnya.












