Nganjuk, Jatimmandiri.id – Rangkaian Konferensi Daerah (Konferda) DPD GMNI Jawa Timur resmi bergulir di Pendopo Kabupaten Nganjuk, Jumat (4/9/2026).
Mengusung tema besar Gotong Royong Jaga Persatuan, Wujudkan Pasal 33 UUD 1945, forum ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat konsolidasi internal sekaligus mempertegas komitmen perjuangan kerakyatan di Jatim.
Pembukaan acara berlangsung semarak dengan dihadiri ratusan kader dari 33 DPC GMNI kabupaten/kota se-Jatim.
Momentum regenerasi ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan daerah dan lintas organisasi pemuda, seperti Kepala Bakesbangpol Jatim, Bupati Nganjuk, hingga perwakilan Cipayung Plus Jawa Timur (PMII, HMI, KAMMI, SEMMI, GMKI, PMKRI, IMM, KMHDI, dan PW Ansor Jawa Timur).
Kehadiran berbagai elemen ini memperkuat sinergi serta persatuan pemuda di kawasan Jatim.
Ketua DPD GMNI Jatim, Hendra Prayogi, menyampaikan apresiasi atas sinergi seluruh pihak dalam menyukseskan gelaran Konferda.
Hendra menegaskan bahwa keberlanjutan organisasi merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga oleh siapa pun kepemimpinan terpilih nantinya.
Ia menitipkan estafet kaderisasi dari tingkat akar rumput hingga daerah agar terus mendapatkan perhatian penuh.
“Siapapun yang terpilih sebagai Ketua DPD GMNI Jawa Timur, saya titip kader-kader GMNI se-Jawa Timur. Kader-kader DPC dan kader-kader komisariat harus terus diperkuat kaderisasinya,” pesan Hendra.
Hendra juga mendorong agar gagasan strategis yang dirintis pada periodenya dapat dilanjutkan, khususnya program Satu Komisariat Satu Dampingan Desa.
Program ini menjadi bukti nyata kehadiran kader di tengah masyarakat yang diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan lintas periode.
Sedangkan Ketua Umum DPP GMNI, Muhammad Risyad Fahlefi, mengingatkan pentingnya menjaga keterikatan organisasi dengan persoalan riil masyarakat.
Menurutnya, pembenahan struktur dan administrasi formal harus berjalan selaras dengan aksi nyata pendampingan rakyat.
“Selain memperkuat pondasi organisasi secara formal dan administrasi, GMNI perlu membangun atau memperbaiki hubungan kepada masyarakat secara langsung. Mulai dari kelompok petani, nelayan, buruh, dan kaum miskin kota,” ujar Risyad.
Ia menekankan bahwa pendekatan kepada masyarakat harus dimulai dari pola interaksi yang paling membumi.
“Untuk membangun hubungan ini, kader GMNI harus senantiasa membersamai dari hal yang paling dasar seperti cara bergaul,” lanjutnya.
Lebih lanjut, Risyad mengajak seluruh kader untuk menjadikan nilai-nilai Trisakti ajaran Bung Karno sebagai pedoman hidup bersosialisasi maupun berorganisasi.
“Trisakti yang dicetuskan Bung Karno ini juga menjadi jurus yang ampuh untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam konteks negara, organisasi, dan individu. Sehingga sebagai Soekarnois, kita semua wajib menerapkan Trisakti dalam kehidupan sehari-hari di semua aspek,” tegasnya.












