Lamongan, jatimmandiri.id – Penutupan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pondok Pesantren Al-Fatimiyah, Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, berlangsung dengan konsep berbeda. Selain pentas seni dan kegiatan membaca Alquran, acara pada Senin (26/10/2026) itu juga dimeriahkan festival film karya santriwati dan pengambilan sumpah pengurus Media Al-Fathimiyah masa bakti 2026–2027.
Festival film menjadi salah satu agenda yang menarik perhatian. Sejumlah film hasil kreativitas santriwati ditayangkan di hadapan lebih dari 500 santriwati. Karya-karya tersebut menjadi wadah bagi para santri untuk menyampaikan gagasan, mengangkat cerita, serta mengembangkan kreativitas melalui media audiovisual.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa santriwati tidak hanya berperan sebagai penikmat karya, tetapi juga mampu menjadi kreator yang menghasilkan film dari lingkungan pesantren. Melalui festival tersebut, para santri mendapat ruang untuk mengekspresikan ide sekaligus mengasah kemampuan dalam produksi karya audiovisual.
Pada kesempatan yang sama, dilaksanakan pengambilan sumpah pengurus Media Al-Fathimiyah masa bakti 2026–2027. Kepengurusan baru ini diharapkan mampu memperkuat kegiatan jurnalistik dan pengelolaan media di lingkungan pesantren.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan Sahrul Munir, pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatimiyah KH. Abid Abdullah, serta Suyono dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Lamongan.
Dalam sambutannya, Sahrul Munir mengapresiasi konsep kegiatan yang dinilai berbeda dari peringatan HSN pada umumnya. Perpaduan seni dan festival film, menurutnya, memberikan warna tersendiri bagi kegiatan santri di Lamongan.
“Acara yang digelar sungguh berbeda dengan yang lainnya. Gelaran seni dan festival film ini akan menjadi sesuatu yang berbeda di Lamongan,” ujar Sahrul Munir.
Ia menilai, festival film dapat menjadi ruang bagi generasi muda pesantren untuk menyalurkan kreativitas dan menyampaikan gagasan melalui karya yang dekat dengan kehidupan mereka.
Sementara itu, Suyono dari Bidang Event, Advokasi, dan Kemitraan Lesbumi PCNU Lamongan menilai festival film karya santriwati tersebut sebagai kegiatan unik yang belum banyak dijumpai di lingkungan pondok pesantren.
“Satu-satunya pondok yang menggelar atau melaksanakan festival film ini hanya terjadi di Al-Fathimiyah,” kata Suyono.
Ia berharap festival tersebut tidak hanya menjadi agenda seremonial dalam peringatan HSN, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan berkelanjutan dengan cakupan yang lebih luas.
Menurutnya, apabila dikelola secara serius, kegiatan tersebut berpeluang menjadi festival film santri tingkat Jawa Timur yang dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Fathimiyah.
“Jika ini digarap serius, bisa jadi akan menjadi gelaran festival santri untuk Jawa Timur yang akan digelar di Al-Fathimiyah,” ujarnya.
Media Pesantren Didorong Lahirkan Karya Edukatif
Selain festival film, penguatan Media Al-Fathimiyah menjadi bagian penting dalam rangkaian penutupan HSN 2026. Keberadaan media pesantren diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi santri untuk mengembangkan keterampilan jurnalistik, memproduksi konten, mendokumentasikan kegiatan, serta menyebarluaskan informasi mengenai aktivitas dan kreativitas pesantren kepada masyarakat.
Pengurus baru Media Al-Fathimiyah juga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas karya yang dihasilkan. Media pesantren tidak hanya berfungsi sebagai sarana informasi, tetapi juga sebagai media edukasi bagi santri dan masyarakat luas.
“Mudah-mudahan pengurus media yang baru dilantik bisa bekerja maksimal sehingga bisa lebih baik dari yang sudah sangat baik dan bisa menelurkan lebih banyak karya serta karya yang bermanfaat yang bisa mengedukasi santri dan masyarakat,” terang KH. Abdulloh Adib Haad.
Rangkaian penutupan HSN 2026 tersebut memperlihatkan perkembangan peran pesantren sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya berfokus pada ilmu keagamaan, tetapi juga mendukung pertumbuhan kreativitas, seni, perfilman, jurnalistik, dan media digital.
Festival film karya santriwati serta pengambilan sumpah pengurus Media Al-Fathimiyah masa bakti 2026–2027 menjadi momentum untuk memperluas ruang ekspresi santri sekaligus memperkuat ekosistem kreatif di lingkungan pesantren.
Dengan pengembangan yang berkelanjutan, kegiatan tersebut diharapkan dapat melahirkan lebih banyak karya santri yang inspiratif, edukatif, dan bermanfaat bagi masyarakat.












