Mojokerto, Jatimmandiri.id — Ratusan warga Desa Kemasantani, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, menggelar aksi protes dengan mendatangi lokasi galian C di aliran Sungai Pikatan, Kecamatan Pacet.
Menggunakan truk operasional Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) serta puluhan sepeda motor, massa yang beratribut serba merah putih ini melampiaskan kekesalan atas tercemarnya sumber air bersih yang menjadi nadi kehidupan mereka.
Aksi turun jalan ini dipicu oleh aktivitas tambang galian C di hulu sungai yang dituding merusak ekosistem serta membuat aliran Sungai Pikatan keruh pekat.
Akibatnya, air yang selama ini diandalkan warga untuk kebutuhan rumah tangga, irigasi pertanian, pencucian hasil bumi, hingga sektor peternakan praktis tidak layak pakai.
Perwakilan perangkat Desa Kemasantani, Kasun Hery dan Kaur Fuat, menyampaikan ultimatum tegas kepada pihak pengelola tambang.
“Warga menuntut air yang mengalir ke warga harus jernih. Kalau tetap keruh akibat galian C ini, kami akan demo lanjutan ke Pemkab Mojokerto,” tegas Hery, Kamis (29/10/2026).
Di tengah pengawalan ketat aparat keamanan, aksi protes tersebut berlangsung tertib. Warga mendesak instansi berwenang seperti Dinas ESDM, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Satpol PP Kabupaten Mojokerto untuk segera turun tangan melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan mengevaluasi legalitas perizinan tambang tersebut.
“Kami tidak segan-segan mengerahkan massa dalam skala yang jauh lebih besar ke Kantor Pemkab Mojokerto apabila tuntutan air bersih dan jernih ini diabaikan,” ucap Hery.
Menanggapi aksi tersebut, perwakilan warga bersama perangkat Dusun Wiyu akhirnya menggelar mediasi langsung dengan pemilik galian C.
Kedua belah pihak kemudian turun ke lapangan untuk mengecek titik pembuangan aktivitas galian yang disinyalir menjadi muara pencemaran di Sungai Pikatan.
Warga berharap langkah konkret segera diambil agar pasokan air bersih bagi hajat hidup orang banyak dapat kembali pulih tanpa gangguan sedimentasi lumpur. (ayu/alf)












