Intisari Berita:
Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya M. Machmud membeberkan hasil evaluasi kinerja BUMD Surabaya tahun anggaran 2025.
PDAM tampil mentereng dengan dividen menembus Rp145 miliar, sedangkan PD Pasar Surya, RPH, dan KBS masih ngos-ngosan memenuhi target.
Machmud menyoroti masalah kepemimpinan di KBS serta mendesak PD Pasar Surya melakukan gebrakan nyata untuk perbaikan pasar dan pedagang.
Surabaya, Jatimmandiri.id — Hasil evaluasi kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk tahun anggaran 2025 mencatatkan performa yang cukup timpang.
Sejumlah perusahaan daerah dilaporkan masih kesulitan memenuhi target setoran dividen yang dipatok Wali Kota, sementara sebagian lainnya sukses membukukan tren finansial positif.
Peta kinerja BUMD Kota Pahlawan tersebut dibeberkan oleh Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, M. Machmud, usai memimpin rapat evaluasi internal di ruang Komisi B, Gedung DPRD Surabaya, Yos Sudarso.
Machmud mengungkapkan bahwa entitas BUMD seperti PD Pasar Surya, Perusahaan Daerah Rumah Potong Hewan (RPH), dan Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (KBS) terungkap masih ketat berjuang meraup target dividen daerah.
“PDAM menjadi BUMD dengan raihan terbaik setelah berhasil mengantongi dividen lebih dari Rp145 miliar. Capaian positif juga ditunjukkan oleh PT YKP yang berhasil keluar dari tren minus hingga mencatatkan kenaikan pertumbuhan serta keuntungan yang lumayan besar,” jelas M. Machmud, Selasa (21/7/2026).
Soroti Kekosongan Direktur KBS dan Kinerja Stagnan PD Pasar Surya
Machmud memaparkan, melesetnya capaian dividen pada beberapa perusahaan daerah tidak terlepas dari kendala teknis dan manajerial di internal BUMD.
Salah satu masalah krusial yang ia soroti adalah kekosongan figur kepemimpinan definitive, seperti yang terjadi di KBS akibat tidak memiliki direktur utama selama kurun waktu beberapa tahun.
Sementara itu, untuk PD Pasar Surya, politisi Partai Demokrat ini menilai belum ada gebrakan inovatif dari pihak manajemen untuk mendongkrak performa bisnis dan memodernisasi pasar tradisional.
Machmud merumuskan tiga indikator sederhana untuk mengukur keberhasilan PD Pasar Surya:
-
Perubahan fisik dan infrastruktur pasar.
-
Peningkatan kenyamanan masyarakat saat berbelanja.
-
Peningkatan Kesejahteraan dan taraf hidup para pedagang.
“Sejauh ini, kondisi pasar tradisional dianggap belum mengalami perbaikan signifikan dan cenderung stagnan,” cetusnya.
Dividen Rp1 Miliar Diputar Kembali Jadi Penyertaan Modal
Kinerja PD Pasar Surya yang masih stagnan berimbas langsung pada minimnya dividen yang bisa disetorkan ke Kas Daerah, yakni hanya menyentuh angka Rp1 miliar.
Bahkan, nilai dividen yang terbilang minim tersebut pada akhirnya harus dikembalikan lagi oleh Pemkot Surabaya ke kas PD Pasar Surya dalam bentuk penyertaan modal untuk menopang biaya operasional perusahaan.
DPRD Surabaya berharap Pemkot Surabaya bersama manajemen BUMD terkait segera mengambil tindakan tegas dan merumuskan strategi pembenahan operasional maupun finansial agar BUMD yang tertekan dapat segera bangkit.












