Internasional

Eropa Memanas hingga 40 Derajat Celsius, Ini Fakta di Balik Gelombang Panas Mematikan

×

Eropa Memanas hingga 40 Derajat Celsius, Ini Fakta di Balik Gelombang Panas Mematikan

Sebarkan artikel ini
ilustrasi
Example 468x60

Jatimmandiri.id, –  Gelombang panas ekstrem kembali melanda sejumlah negara di Eropa dengan suhu yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Fenomena cuaca ini tidak hanya memicu lonjakan penggunaan pendingin ruangan hingga panic buying AC, tetapi juga dikaitkan dengan lebih dari 1.300 kasus kematian berlebih (excess deaths). Para ahli menyebut kombinasi perubahan iklim dan fenomena heat dome sebagai pemicu utama cuaca ekstrem yang kini semakin sering terjadi.

Spanyol menjadi salah satu negara yang merasakan dampak paling parah. Menurut World Meteorological Organization (WMO), negara tersebut mengalami hari-hari terpanas pada 23–24 Juni 2026. Kota Bilbao bahkan mencatat suhu mencapai 42,7 derajat Celsius, sekaligus menjadi rekor suhu tertinggi yang pernah terjadi pada bulan Juni di wilayah tersebut.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Selain suhu yang sangat tinggi, kondisi cuaca diperparah oleh tingkat kelembapan udara yang tinggi di sejumlah kawasan Eropa. Berdasarkan laporan World Weather Attribution (WWA), kombinasi panas dan kelembapan membuat tubuh manusia semakin sulit melepaskan panas melalui penguapan keringat. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak, serta penderita penyakit kronis.

Perubahan iklim menjadi pemicu utama

Laporan WWA menyebutkan bahwa gelombang panas yang kini melanda Eropa berkaitan erat dengan perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia. Emisi gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak bumi, dan gas alam terus meningkatkan suhu rata-rata Bumi sehingga cuaca panas ekstrem menjadi lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang lebih tinggi.

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan lebih dari 200.000 kematian akibat panas ekstrem di negara-negara Uni Eropa selama empat tahun terakhir. Organisasi tersebut menilai sebagian besar korban sebenarnya dapat dicegah apabila mitigasi dan sistem peringatan dini diterapkan secara lebih efektif.

Baca Juga  Kunjungan Prabowo ke Prancis Hasilkan Investasi Rp61,25 Triliun, Buka Peluang Mitra Baru di Eropa

WWA juga mencatat bahwa suhu global kini telah meningkat sekitar 1,4 derajat Celsius dibandingkan era praindustri. Akibat pemanasan global tersebut, gelombang panas seperti yang terjadi saat ini menjadi puluhan hingga ratusan kali lebih mungkin terjadi dibandingkan pada 2003, bahkan hampir mustahil terjadi sekitar lima dekade lalu.

Fenomena heat dome membuat panas terjebak

Selain dipengaruhi perubahan iklim, para ahli menjelaskan bahwa Eropa juga sedang mengalami fenomena heat dome atau kubah panas. Fenomena ini terjadi ketika sistem tekanan udara tinggi bertahan di atmosfer selama beberapa hari hingga lebih dari sepekan sehingga udara panas terus terperangkap di suatu wilayah.

Mengutip The New York Times, heat dome bekerja layaknya penutup panci yang menghalangi udara panas naik ke atmosfer. Akibatnya, pembentukan awan terhambat dan langit tetap cerah, membuat sinar matahari terus memanaskan permukaan Bumi dari hari ke hari.

Sistem tekanan tinggi tersebut juga membawa massa udara panas dari Gurun Sahara di Afrika Utara menuju Eropa. Pada saat yang sama, masuknya udara sejuk dan hujan tertahan sehingga panas terus terakumulasi dan suhu meningkat jauh di atas rata-rata musimannya.

Dampak meluas ke kesehatan, transportasi, hingga energi

Gelombang panas ekstrem tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat. Menurut Kementerian Kesehatan RI, paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan dehidrasi, iritasi kulit, sakit kepala, kelelahan, heat exhaustion, hingga heatstroke. Risiko tersebut paling tinggi dialami kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru.

Di sektor infrastruktur, cuaca panas juga memicu berbagai gangguan. Prancis misalnya, terpaksa menutup sejumlah sekolah akibat suhu ekstrem. Jalur kereta api di negara itu juga mengalami gangguan karena rel memuai akibat panas yang berkepanjangan.

Baca Juga  Prabowo Hadiri Jamuan Kenegaraan Presiden Macron di Istana Élysée Paris

Sementara itu, Spanyol menghadapi ancaman kekeringan yang semakin serius. Cadangan air di berbagai waduk terus menyusut sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan air bersih dan kebutuhan irigasi.

Sektor energi pun ikut terdampak. Suhu tinggi dikhawatirkan mengurangi kapasitas produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir di Prancis yang menggunakan air Sungai Rhône dan Garonne sebagai sistem pendingin. Jika produksi listrik menurun, pasokan energi di Eropa berpotensi mengetat dan memicu kenaikan harga listrik di berbagai negara.

Perlu mitigasi agar risiko tidak semakin besar

Fenomena gelombang panas di Eropa menunjukkan bagaimana perubahan iklim dan heat dome dapat saling memperkuat hingga menghasilkan cuaca ekstrem yang berdampak luas. Ancamannya tidak hanya menyasar kesehatan masyarakat, tetapi juga memengaruhi sektor lingkungan, transportasi, infrastruktur, hingga ketahanan energi.

Karena itu, para ahli menilai upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, penguatan sistem mitigasi perubahan iklim, serta peningkatan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem menjadi langkah penting untuk menekan risiko bencana serupa di masa mendatang.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *