Banyuwangi, Jatimmandiri.id – Masyarakat Banyuwangi memiliki tradisi khas dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, yakni endhog-endhogan. Tradisi yang berkembang terutama di lingkungan masyarakat Osing ini ditandai dengan telur rebus yang dihias menjadi kembang endhog dan ditancapkan pada jodang, batang pohon pisang yang telah dihias.
Endhog-endhogan bukan sekadar perayaan keagamaan. Tradisi ini menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, bergotong royong, berbagi, sekaligus menjaga warisan budaya Banyuwangi.
Memiliki Sejumlah Versi Sejarah
Sejarah endhog-endhogan memiliki beberapa versi. Informasi Banyuwangi Tourism, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, menyebut tradisi tersebut telah ada sejak 1911.
Sementara Perpustakaan Budaya Digital yang mengutip sejarawan lokal Suhailik menyebut tradisi ini muncul setelah Islam masuk ke wilayah Kerajaan Blambangan, sekitar akhir abad ke-18.
Dalam cerita lisan masyarakat, endhog-endhogan dikaitkan dengan KH Abdullah Faqih, santri Kiai Syaikhona Kholil, yang mengembangkan penggunaan telur rebus berhias dalam peringatan Maulid Nabi.
Perbedaan sumber tersebut menunjukkan sejarah awal tradisi ini memiliki lebih dari satu versi sehingga tahun kemunculannya tidak dapat dipastikan secara mutlak.
Dari Dakwah Menjadi Identitas Budaya
Endhog-endhogan awalnya berkembang di kalangan masyarakat Osing dan berkaitan dengan dakwah Islam. Seiring waktu, tradisi ini menyebar ke berbagai lapisan masyarakat Banyuwangi dan berkembang menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
Bentuk kembang endhog juga semakin beragam. Selain bunga, hiasan dapat dibuat menyerupai barong, ular naga, pesawat, hingga kerucut. Meski bentuknya berubah mengikuti kreativitas masyarakat, telur tetap menjadi unsur utama.
Sejumlah kajian menyebut tradisi tersebut mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai religiusnya.
Telur Melambangkan Iman, Islam dan Ihsan
Telur dalam tradisi endhog-endhogan bukan sekadar hiasan. Tiga bagiannya memiliki makna simbolis. Cangkang melambangkan iman, putih telur melambangkan Islam, sedangkan kuning telur melambangkan ihsan sekaligus awal kehidupan.
Kembang endhog dibuat dari telur rebus, tusuk bambu, dan kertas warna-warni, kemudian ditancapkan pada jodang.
Pohon pisang yang digunakan sebagai jodang dimaknai sebagai simbol keteguhan dan pantang menyerah karena dapat kembali tumbuh meski telah ditebang.
Jumlah kembang endhog dalam satu jodang juga beragam, antara lain 22, 27, 33, hingga 99 buah.
Empat Tahapan Tradisi
Pelaksanaan endhog-endhogan dapat berbeda di setiap desa, tetapi umumnya terdiri atas empat tahapan.
Pertama, membuat kembang endhog. Warga menyiapkan telur rebus, bambu, kertas warna-warni, dan jodang. Prosesnya dilakukan secara gotong royong.
Kedua, kirab jodang. Jodang yang telah dihias diarak mengelilingi kampung dengan iringan hadrah, patrol, terbang, atau rebana.
Ketiga, pembacaan Berzanji dan selawat. Setelah kirab, warga berkumpul di masjid atau musala untuk membaca kitab Berzanji, yang dalam masyarakat Osing dikenal sebagai serakalan, kemudian melantunkan selawat Nabi.
Keempat, pembagian kembang endhog. Telur hias dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol berkah dan rasa syukur. Kegiatan biasanya dilanjutkan dengan makan bersama atau aktivitas lain sesuai kebiasaan warga.
Endhog-endhogan akhirnya menjadi perpaduan antara ajaran agama, gotong royong, kreativitas, dan identitas budaya Banyuwangi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.












