Edu-Life & Sportꦧꦸꦢꦪ

Batik Berlayar, Wastra Jatim Menembus Zaman

Penulis: Nabil Editor: Ayn
×

Batik Berlayar, Wastra Jatim Menembus Zaman

Sebarkan artikel ini
Arus tenang Sungai Kalimas tampak indah ketika belasan perahu berhias batik berlayar. Kemeriahan warga kota pun tak terelakkan.
Example 468x60

Surabaya, Jatimmandiri.id – Sungai Kalimas berubah menjadi panggung budaya pada Jumat (2/10) malam. Sebanyak 11 perahu berhias ornamen batik menyusuri sungai dari Taman Prestasi menuju Monumen Kapal Selam (Monkasel), membawa pesan bahwa batik bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi wastra yang terus bergerak mengikuti zaman.

Parade bertajuk “Batik Berlayar” menjadi puncak peringatan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya. Cahaya lampu kota, sinar bulan dan permainan tata cahaya berpadu dengan iringan musik perkusif drum band Yayasan Hang Tuah Surabaya. Para peserta parade tampil mengenakan busana batik, menjadikan perjalanan di atas air tersebut sebagai pertunjukan visual sekaligus perayaan identitas budaya.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Ketua Hari Batik Nasional Wirasno mengatakan, pemilihan Surabaya sebagai lokasi peringatan sekaligus membawa perayaan ke Sungai Kalimas memberikan makna tersendiri.

“Filosofinya adalah batik akan kami bawa berlayar mengarungi samudra. Sungai Kalimas ini sangat memenuhi syarat untuk menggambarkan itu,” ujar Wirasno.

Menurut dia, batik tidak cukup hanya dipertahankan sebagai warisan budaya. Perjalanan batik harus terus diperluas agar mampu menjangkau masyarakat sekaligus menembus pasar dan panggung internasional.

Pesan serupa disampaikan Ketua Bidang Usaha Baru Dekranas Metty Herindra. Konsep Batik Berlayar, menurut dia, menggambarkan perjalanan panjang batik dalam menghadapi perubahan zaman.

“Batik harus terus berlayar melintasi zaman, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dan hadir dalam kehidupan sehari-hari,” kata Metty.

Ia menilai kreativitas dan inovasi menjadi kunci agar batik tetap relevan tanpa kehilangan akar tradisinya. Dengan cara itu, batik bukan hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga dapat memperkuat identitas bangsa dan memberi ruang kesejahteraan bagi para perajin.

Rangkaian Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya berlangsung sejak 30 September dengan mengangkat batik khas Tulungagung. Sejumlah motif lokal menghiasi perahu, antara lain Batik Lurik Bhumi Ngrowo, Gajah Modo, Bangoan, Majanan dan Kalangbret.

Baca Juga  Film Istimewa Angkat Anak Disabilitas Jadi Tokoh Utama

Di atas Kalimas, motif-motif tersebut tidak lagi sekadar menjadi corak kain. Ia menjelma bagian dari pertunjukan yang mempertemukan tradisi, seni, ruang kota dan air.

Batik pun seolah benar-benar berlayar: membawa cerita dari daerah, menyusuri zaman, dan membuka jalan menuju dunia.

Selain menjadi pertunjukan budaya, parade ini memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat dihidupkan melalui seni. Sungai Kalimas menjadi panggung yang mempertemukan warisan tradisi dengan kreativitas visual, sekaligus membuka cara baru bagi masyarakat menikmati dan mengenal batik.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *