Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Hipotesis tentang kemungkinan kota kuno di Gosong Gia, Laut Jawa, membutuhkan pengujian material untuk membedakan formasi alam dari peninggalan aktivitas manusia. Pengambilan sampel, analisis laboratorium, dan pemeriksaan independen menjadi tahapan penting sebelum dugaan tersebut dapat dinilai sebagai bukti arkeologis.
Satu kawasan yang berada ekitar 150 kilometer timur laut Pulau Bawean, Gresik menjadi perhatian Insinyur Teknik Sipil Hidro Dhani Irwanto. Ini tak lepas keberadaan bentuk terumbu dan kedalaman dasar lautnya. Ya, lokasi itu kerap disebut Gosong Gia, yang dikenal pula sebagai Annie Florence Reef.
Dalam kajiannya, Dhani merujuk survei sonar oleh tim sponsor yang belum dipublikasikan. Data yang ia paparkan menunjukkan puncak terumbu sekitar 10 meter di bawah permukaan laut rata-rata. Dasar laut di sekitarnya mencapai sekitar 55 meter.
Dhani menafsirkan pola tersebut sebagai kemungkinan jejak struktur yang menyerupai kota bercincin dalam tulisan Plato. Ia mengajukan model bahwa permukaan keras yang diduga berkaitan dengan struktur kuno kemudian tertutup pertumbuhan karang dan sedimentasi.
Namun, gambaran sonar belum dapat memastikan asal-usul material di bawah terumbu. Belum ada bukti arkeologis independen yang memastikan Gosong Gia sebagai bekas kota kuno. Karena itu, penelitian perlu bergerak dari interpretasi bentuk menuju pemeriksaan fisik.
Nah. tahap awal dapat dilakukan melalui pemetaan batimetri beresolusi tinggi untuk menentukan bentuk dan lokasi yang perlu diperiksa. Selanjutnya, sub-bottom profiler dapat membantu membaca lapisan sedimen di bawah dasar laut.
Kendaraan bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh atau ROV dapat digunakan untuk merekam kondisi terumbu secara langsung. Dokumentasi visual membantu peneliti menentukan titik pengambilan sampel tanpa melakukan pemeriksaan secara sembarangan.
Pengambilan sampel harus mempertimbangkan perizinan dan perlindungan ekosistem terumbu karang. Lokasi, kedalaman, posisi, serta hubungan sampel dengan lapisan di sekitarnya perlu dicatat secara terperinci.
“Eksplorasi bawah laut mungkin tidak akan menemukan benteng tersebut jika penelitian tidak dilakukan hingga ke bawah terumbu karang,” ungkap Dhani, dalam materi penelitiannya. Artinya, eksplorasi bawah laut mungkin tidak menemukan benteng tersebut apabila pemeriksaan tidak dilakukan hingga ke bawah terumbu.
Pernyataan itu menjelaskan alasan Dhani mengusulkan pemeriksaan bagian dalam karang. Namun, keberadaan struktur yang ia maksud masih merupakan hipotesis.
Jika ada, sampel yang diperoleh dapat diperiksa di laboratorium. Analisis mineralogi dan petrografi membantu mengidentifikasi jenis batuan serta proses pembentukannya. Pemeriksaan mikroskopis juga dapat mencari indikasi pemotongan, penghalusan, atau pengerjaan tertentu.
Apabila ditemukan material yang diduga sebagai mortar, komposisi dan karakteristiknya perlu dianalisis. Peneliti harus membandingkannya dengan bahan geologi alami yang mungkin memiliki penampilan serupa.
Penentuan umur juga harus disesuaikan dengan jenis material. Karang dapat diuji menggunakan metode uranium-thorium, sedangkan bahan organik tertentu dapat diperiksa melalui penanggalan radiokarbon. Hasilnya tidak otomatis menunjukkan umur struktur yang mungkin berada di bawahnya. “Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apa yang terdapat di dalam terumbu karang tersebut,” kata Dhani.
Di sisi lain, hasil laboratorium tidak cukup berdiri sendiri. Peneliti perlu menghubungkan data komposisi, umur, posisi sampel, susunan lapisan, dan kemungkinan proses geologi yang membentuk kawasan tersebut.
Pengujian independen juga penting agar metode dan hasil penelitian dapat diperiksa oleh pihak lain. Jika ditemukan indikasi material buatan manusia, temuan itu masih harus dinilai berdasarkan konteks arkeologisnya.
Dengan demikian, penelitian Gosong Gia memiliki dua kepentingan. Pertama, memperkaya pemahaman tentang geologi dan perubahan lingkungan dasar Laut Jawa. Kedua, menguji kemungkinan adanya peninggalan aktivitas manusia tanpa mendahului kesimpulan. (*/ibn)












