Jateng

Dari Desa Pesisir Rembang, Rahmah Sukses Raih Gelar Doktor di Tengah Keterbatasan

×

Dari Desa Pesisir Rembang, Rahmah Sukses Raih Gelar Doktor di Tengah Keterbatasan

Sebarkan artikel ini
Rahmah (tengah) berhasil meraih gelar doktor dari Pascasarjana UIN Walisongo Semarang melalui dukungan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama.
Example 468x60

Semarang, Jatimmandiri.id – Bagi banyak anak yang tumbuh di kawasan pesisir, pendidikan tinggi sering kali terasa sebagai mimpi yang terlalu jauh untuk dijangkau.

Keterbatasan ekonomi, akses pendidikan, hingga tuntutan membantu orang tua mencari nafkah kerap menjadi hambatan yang sulit dilewati.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Namun anggapan tersebut dipatahkan oleh Mamluatur Rahmah, perempuan asal Desa Bonang, Kabupaten Rembang.

Berasal dari keluarga buruh terasi, Rahmah membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang untuk menempuh pendidikan hingga jenjang tertinggi.

Pada Rabu, 10 Juni 2026, Rahmah resmi meraih gelar doktor dari Pascasarjana UIN Walisongo Semarang melalui dukungan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama.

“Sejak kecil saya percaya bahwa pendidikan adalah cara paling mungkin untuk mengubah nasib. Orang tua saya mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi mereka selalu menanamkan pentingnya sekolah,” ujar Rahmah.

Desa Bonang yang berada di kawasan pesisir utara Jawa dikenal sebagai sentra produksi terasi.

Sejak kecil, Rahmah akrab dengan aroma menyengat hasil olahan udang rebon yang menjadi sumber penghidupan sebagian besar warga setempat.

Di lingkungan itu pula ia menyaksikan langsung perjuangan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh terasi.

“Kondisi ekonomi keluarga saya sangat terbatas, namun tidak hal itu justru menjadi pemantik semangat saya untuk mewujudkan cita-cita,” katanya.

Perjalanan menuju gelar doktor itu tentu tidak berjalan mudah.

Selain harus menghadapi keterbatasan ekonomi, ia juga tumbuh di lingkungan yang masih menganggap pendidikan tinggi sebagai sesuatu yang sulit dijangkau, terutama bagi anak perempuan dari keluarga sederhana.

Menurut Rahmah, tidak sedikit anak-anak di wilayah pesisir yang memiliki potensi besar, tetapi harus mengubur impian karena terkendala biaya pendidikan.

Baca Juga  Demi Jepara Lebih Makmur, Bupati Ajak Masyarakat Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

Karena itu, setiap kesempatan belajar yang diperolehnya selalu dimanfaatkan sebaik mungkin.

“Banyak anak-anak desa yang sebenarnya cerdas. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan dan akses. Ketika kesempatan itu datang, kita harus berani mengambilnya,” katanya.

Kesempatan tersebut hadir ketika Rahmah memperoleh Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), program kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP yang memberikan akses pendidikan bagi kader-kader unggul dari lingkungan pendidikan Islam.

Ia mengakui, dukungan beasiswa menjadi faktor penting yang memungkinkan dirinya melanjutkan studi hingga jenjang doktoral.

“Tanpa beasiswa, mungkin perjalanan ini akan jauh lebih berat. Program seperti ini membuka peluang bagi banyak anak dari keluarga sederhana untuk memperoleh pendidikan yang layak,” ujarnya.

Dalam studi doktoralnya, Rahmah meneliti fenomena kecemasan kematian pada lansia di Pondok Pesantren Payaman, Magelang.

Penelitian tersebut menggabungkan perspektif psikologi dan tasawuf dalam memahami pengalaman spiritual dan psikologis lansia menghadapi fase akhir kehidupan.

Karyanya mendapat apresiasi dari tim penguji karena dinilai mampu menghadirkan pendekatan yang relevan dengan realitas sosial masyarakat Indonesia.

Selain mengajar sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta, Rahmah juga aktif dalam kegiatan sosial melalui Lembaga Kesehatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kabupaten Sukoharjo.

Baginya, pendidikan tidak berhenti pada pencapaian gelar akademik. Ilmu pengetahuan harus kembali kepada masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan.

“Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi anak-anak di daerah pesisir dan pedesaan, kehadiran program beasiswa dan dukungan pendidikan menjadi faktor penting untuk menciptakan kesempatan yang lebih setara,” katanya.

Rahmah menunjukkan bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari tempat-tempat yang memiliki banyak fasilitas.

Dengan kerja keras, dukungan keluarga, dan akses pendidikan yang memadai, keterbatasan dapat diubah menjadi kekuatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Baca Juga  Hubungkan Sejumlah Desa di Grobogan, Jembatan Perintis Garuda Merah Putih Mulai Dibangun

“Jangan pernah merasa kecil karena berasal dari keluarga sederhana. Mimpi tidak ditentukan oleh keadaan ekonomi orang tua, tetapi oleh seberapa besar kemauan kita untuk terus belajar dan berjuang,” tuturnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *