Menelusuri Jejak Peradaban Kuno
Geolog Danny Hilman Natawidjaja menyampaikan dugaan tentang usia bata Kumitir serta kemiripan bunyi “Eta-Lantis” dengan Atlantis. Keduanya membuka peluang penelitian, tetapi memerlukan pengujian berbeda sebelum dapat menjelaskan sejarah kawasan Trowulan maupun asal-usul sebuah nama.
——————-
Di Situs Kumitir, Kabupaten Mojokerto, ekskavasi telah mengungkap fondasi, gerbang, tangga, dan talud bata merah. Kawasan seluas lebih dari enam hektare itu diduga pernah menjadi kompleks penting pada masa Majapahit. Danny menyoroti kemungkinan adanya bata dari periode lebih awal.
“Di situ ada bata muda dan bata tua yang bisa berusia 700 SM,” kata Danny.
Kata “bisa” menentukan cara membaca pernyataan tersebut. Angka 700 sebelum Masehi belum dapat diperlakukan sebagai usia bata yang telah teruji. Peneliti perlu memastikan lokasi temuan, hubungan antarlapisan tanah, dan apakah bata masih berada pada posisi aslinya.
Bata dari lapisan lebih dalam belum tentu dibuat lebih dahulu. Material bangunan dapat berpindah atau dipakai kembali. Karena itu, pengujian usia perlu disertai pencatatan konteks temuan, ukuran, komposisi, dan hubungan bata dengan benda lain di sekitarnya.
Metode luminesensi dapat membantu memperkirakan kapan bata terakhir dibakar. Hasilnya tetap harus dibandingkan dengan susunan lapisan tanah dan temuan lain. Usia arang atau tanah di dekat bata juga tidak otomatis menunjukkan usia bata tersebut.
Penelitian geoarkeologi yang diberitakan pada 2024 mengidentifikasi lapisan dari masa Medang, Singasari, dan Majapahit di Kumitir. Namun, belum jelas apakah penelitian itu memeriksa objek yang sama dengan bata yang dimaksud Danny.
Pertanyaan kedua berpindah dari tanah ke bahasa. Danny menyebut kemiripan bunyi “Eta-Lantis” dengan Atlantis sebagai kemungkinan petunjuk tentang ingatan atas daratan yang tenggelam.
“Di sisi lain, ada pula semacam penyebutan Eta-Lantis dalam bahasa Sunda,” katanya.
Penelusuran kamus, kata “Éta” tercatat sebagai kata penunjuk yang berarti “itu”. Sedangkan “lantis” berkaitan dengan keadaan terkena air atau zat cair.
Asal bentuk “Eta-Lantis” pun masih perlu ditelusuri. Ahli bahasa dan filologi perlu mencari sumber tertua, ejaan, penutur, serta konteks penggunaannya. Tanpa itu, belum dapat dipastikan apakah sebutan tersebut berasal dari tradisi lama atau penafsiran yang muncul belakangan.
Kemiripan bunyi satu ungkapan juga belum membuktikan hubungan asal-usul dua bahasa. Dalam Critias karya Plato, nama pulau dan samudra dalam kisah Atlantis dihubungkan dengan Atlas.
Usulan asal-usul lain perlu menjelaskan bukti bahasa dan jalur sejarah yang mendukungnya.
Danny belum menghubungkan bata Kumitir secara langsung dengan Atlantis. Jika usia bata teruji, hasilnya dapat memperjelas sejarah hunian Trowulan. Jika riwayat “Eta-Lantis” ditemukan, penelitian itu dapat memperkaya dokumentasi bahasa Sunda. Kedua langkah tersebut bernilai tanpa harus mendahului bukti dengan kesimpulan. (*/ibn)












