Oleh: Mu’isyulhaq Al Hasany
Owner Lembaga Kursus English Deutsch Scholastic
Kekuatan politik seringkali diperbincangkan dan diterjemahkan sebagai kekuatan uang, kekuatan elektabilitas dan popularitas, kekuatan pengaruh, kekuatan jaringan dan organisasi, kekuatan komunikasi politik.
Kekuatan inti atau core politic power seringkali digarisbawahi di salah satu dari semua itu. Efek ledakan core-core kekuatan politik pada kekuasaan politik memang ada di dunia nyata.
Core kekuatan uang mempunyai pengaruh daya beli dan daya dukung. Dengan kekuatan uang, sebuah unsur kekuatan kemungkinan bisa dibeli dan sebuah komunitas masyarakat bisa merasa didukung sehingga komunitas itu merasa harus loyal pada pemberi uang.
Kekuatan elektabiltas dan popularitas juga memiliki daya ledak yang diperhitungkan jika elektabiltas dan popularitas itu disukai dan dibutuhkan oleh masyarakat pada suatu masa.
Tokoh dengan pengaruh juga punya tempat dalam kekuatan politik. Jaringan dan organisasi juga adalah kekuatan politik raksasa di dunia.
Komunikasi politik menjadi sangat menarik di era interaksi per detik antar manusia di lingkungan sosial. Komunikasi politik semakin dimodifikasi agar disukai masyarakat sesuai zamannya.
Manusia (baca: masyarakat) juga memiliki karakter kebutuhan yang punya penekanan pada salah satu core kekuatan politik sesuai masanya.
Di zaman sosial media, komunikasi politik nampaknya menjadi penekanan utama dengan indikator viewers dan like. Semakin disukai, maka content wajah komunikasi politik akan semakin seragam mengikuti trend media sosial.
Ada masa-masa ketika masyarakat lebih membutuhkan core politic di bidang finansial, pengaruh (militer, suku, kelompok mayoritas), kekuatan organisasi, kekuatan popularitas dan elektabilitas.
Setiap partai politik berharap memiliki semua core politic.
Tetapi faktanya, menemukan semua core bukanlah hal yang mudah. Ada sebuah partai yang konsisten melakukan kerja-kerja sosial, program membantu dan menolong masyarakat, konsisten dalam kaderisasi, namun partai ini merasa masyarakat belum optimal membela dan mendukung.
Partai ini berpikir lawan politiknya menang karena core politik berupa uang. Di partai lain, mereka berpikir sudah tampil membela masyarakat di media sosial, menunjukkan pembelaan mereka pada masyarakat yang didzolimi, namun hasil politik mereka semakin dalam ke bawah.
Mereka juga berpikir lawan politiknya yang menang mempunyai komunikasi politik sesuai trend media sosial. Bercanda, rileks, dekat dan ramah dengan rakyat kecil
Sementara itu, negara-negara yang punya kekuatan lebih, memiliki kecenderungan memengaruhi politik negara lain.
Ada yang mendukung dengan finansial, ada yang dengan dukungan jaringan elit politik, ada yang mendukung dengan tenaga konsultan dan berbagai bentuk dukungan.
Maka yang menjadi blueprint dari fenomena politik sekarang adalah, bagaimana sebuah partai memenangkan Pemilu dan memiliki core unggul dengan tantangan 3 hal sekaligus:
1. Menentukan Core Politic dan meraihnya,
2. Peranan negara luar dengan berbagai madzhab politiknya,
3. Kecenderungan Kebutuhan Warga suatu negara.
Pierre Bourdieu dalam bukunya yang berjudul “Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste” (1979) mengenalkan tetang Cultural Capital.
Secara sederhana, cultural capital adalah kumpulan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, kebiasaan, nilai, dan selera yang dimiliki seseorang atau suatu komunitas sehingga memberi mereka keunggulan dalam masyarakat.
Contohnya antara lain, kebiasaan membaca buku, pendidikan dan gelar akademik, tradisi mengkaji kitab di pesantren, kemampuan berbahasa asing, budaya minum kopi dan berbincang, cara berkomunikasi yang halus.
Menurut Bordeau, modal budaya, komunitas, keilmuan, dapat diwariskan dari keluarga kemudian digunakan untuk modal sosial, modal profesi, dan modal kepemimpinan (simbolik).
Sebenarnya semua core politic itu memiliki potensi kekuatan. Tetapi partai politic seringkali memiliki satu keunggulan yang lebih dibanding partai lain.
Ada partai yang punya jaringan kader sampai ke pemuda di desa-desa. Ada yang kuat di pendukung dari kalangan pegawai negara. Ada partai yang kuat di wilayah kota dan sekitarnya dimana ketua parpolnya dilahirkan.
Ada partai yang kuat dari sisi solidaritas organisasi keagamaan pencetus partai itu. Dari fakta peta kekuatan partai ini, partai-partai yang mempelajari keunggulan lawan politik nya cenderung meniru, mengakomodasi, atau berinnovasi dengan core kekuatan yang berbeda.
Untuk bisa memenangkan dari semua kekuatan core politik, baik dari kekuatan finansial sumbangan negara lain yang super kaya, atau dari sisi organisasi, ketokohan dan pengaruh, elektabilitas dan popularitas, atau komunikasi politik, dan semua core kekuatan politik, maka energi besar di balik semua kekuatan politik itu berasal dari penghargaan pada ilmu.
Kita bisa melihat China. Saat ini China semakin meningkat dalam pendapatan negara mereka.
Dari ekspor chip saja China memperoleh trilliunan Dollar. Dari sini China bisa berekspansi menguatkan posisi politik mereka di dunia internasional.
Dari mana China bisa meraih pendapatan yang menyusul Amerika. Semua ini berawal dari road map 50 tahun dan 100 tahunan China di segala lini ilmu dan industri.
Kemajuan ekonomi China seiring kemajuan Ilmu dan Industri mereka, seiring dengan Amerika, Korea Selatan, Jepang, Belanda, Inggris, Perancis, Norwegia yang memberikan penghargaan pada ilmu dalam proyeksi kemajuan mereka.
Ilmu tidak hanya dilihat dari industri. Ilmu seperti literatur kitab Ulama’ Muslim melahirkan Pesantren yang kemudian melahirkan NU dan kemudian Partai Politik.
Selain ilmu literatur Muslim, ada ilmu pergerakan Amal Usaha yang dibangun oleh KH. Ahmad Dahlan dan melahirkan Muhammadiyah, kemudian muncul partai.
Di bidang ilmu milter dan ASN lahirlah Partai yang didirikan Bapak Soeharto. Ilmu di bidang akuntansi dan perdagangan industri pabrik melahirkan kekuatan politik finansial.
Maka kekuatan akomodasi politik sejatinya berawal dari kekuatan syukur atas benda-benda ciptaan Allah di bumi dengan wujud syukurnya adalah mengkajinya, menelitinya, mempelajarinya, mendiskusikannya, berkomunitas, kemudian mewujud dalam memuji Allah lisan dan ketaqwaan serta Ibadah, yang kemudian semua aspek ilmu dan benda itu menjadi manfaat bagi manusia dan alam, kemudian jika memperoleh nilai finansial, kekuatan finansial ini dipergunakan dari dan oleh komunitas itu untuk mengokohkan kekuatan ledakan kekuasaan di bumi.
Mari bentangkan sayap sayap organisasi agar bisa mengkaji semua jenis ilmu seperti koleksi British Encyclopedia, Langendscheidt dan Duden Woerterbuch Jerman, sehingga menjadi fusi ilmu yang memiliki efek ledakan Dahsyat dalam politik yang dikuasai pemimpin pembawa Rahmat bagi Alam Semesta.
Maka modal politik dan core power politik terbaik adalah kombinasi atau fusi dari semua core energi politik yang dihasilkan dari akumulasi penghargaan pada budaya keilmuan. Wallahu A’lam.






