Surabaya, Jatim Mandiri
Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya menargetkan Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar memiliki 100 jenis mangrove pada 2027. Target itu ditempuh melalui penambahan spesies baru untuk memperkuat fungsi KRM sebagai pusat riset biodiversitas mangrove.
Saat ini, KRM Gunung Anyar memiliki 74 jenis mangrove. Selain penanaman rutin, BRIDA akan memperkaya koleksi dengan mendatangkan spesies yang belum tersedia di kawasan tersebut. Kepala BRIDA Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan penanaman mangrove akan terus dilakukan setiap tahun.
Namun, pengembangan berikutnya difokuskan pada peningkatan jumlah spesies sebagai bahan penelitian. “Kalau populasi dari jenis jumlahnya kita terus bertambah, kan tiap tahun menanam terus,” ujar Agus, Selasa (28/7).
Untuk mencapai target tersebut, BRIDA akan melakukan ekspedisi ke berbagai daerah guna mencari jenis mangrove yang belum dimiliki KRM Gunung Anyar. “Nah, target yang lain adalah biodiversity, keanekaragamannya. Tahun ini kita kan punya 74 jenis. Kita berharap semoga tahun depan bisa tambah jadi 100. Kita nanti berburu, ber-ekspedisi ke banyak tempat yang punya jenis mangrove yang belum ada di sini, untuk ditanam di sini,” katanya.
Agus menegaskan penambahan spesies tidak sekadar memperkaya koleksi tanaman. Keberagaman jenis mangrove dibutuhkan untuk mendukung fungsi KRM sebagai pusat riset dan inovasi. “Jadi buat penelitian. Karena pengampu dari Kebun Mangrove ini adalah BRIDA. BRIDA core-nya adalah riset. Maka, harus menyediakan banyak spesies untuk bahan riset,” paparnya.
Dia menjelaskan pengembangan kawasan mangrove di Surabaya dilakukan melalui pembagian peran antarperangkat daerah. Kawasan mangrove di Romokalisari, Tambak Sarioso, Asemrowo, dan wilayah pesisir lainnya tetap difokuskan sebagai kawasan konservasi yang dikelola Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP).
“Kalau untuk konservasi, itu tetap ada di sana. Dan yang meng-handle dinas yang terkait, katakanlah Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP),” ujarnya. Sementara itu, BRIDA memusatkan kegiatan riset di KRM Gunung Anyar dengan memperbanyak variasi spesies mangrove sebagai objek penelitian.
“Kalau yang untuk BRIDA, di sini (KRM). Karena kalau BRIDA fokusnya tidak hanya untuk konservasi, tapi juga riset. Di sana enggak (riset), nah konservasinya dikuati. Terus risetnya di sini (KRM),”* tuturnya.
Menurut Agus, kawasan konservasi tidak harus memiliki banyak jenis mangrove selama mampu membentuk ekosistem yang rapat dan menjaga lingkungan pesisir. Sebaliknya, KRM Gunung Anyar memerlukan lebih banyak variasi spesies untuk mendukung penelitian.
“Di sana berarti kan kalau misalkan hanya 10 jenis saja, enggak apa-apa. Yang penting banyak, yang penting menimbulkan kerimbunan pepohonan, itu bagus. Di sini (KRM), jenisnya yang diperbanyak, karena untuk riset. Itu bedanya,” jelasnya.
Meski memiliki fokus berbeda, Agus memastikan pengembangan kawasan mangrove di Surabaya tetap dilakukan secara kolaboratif antarperangkat daerah. “Jadi kita (BRIDA) fokus di sini (KRM). Di sana kita berbagi (kolaborasi) dengan dinas yang lain,” pungkasnya. (*/ibn)












