Jatim

Bojonegoro Masih Punya Potensi, 55 Persen Jaringan Gas Terpakai

×

Bojonegoro Masih Punya Potensi, 55 Persen Jaringan Gas Terpakai

Sebarkan artikel ini
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas (kanan) berbincang dengan peserta saat acara bimtek.
Example 468x60

Bojonergoro, Jatimmandiri.id – Pemanfaatan jaringan gas (jargas) rumah tangga di Bojonegoro masih memiliki ruang besar untuk diperluas. Dari total alokasi gas bumi yang tersedia, baru sekitar 55 persen yang telah dimanfaatkan masyarakat, sehingga peluang peningkatan penggunaan energi berbasis gas masih terbuka.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Sebagai salah satu daerah penghasil migas, Bojonegoro dinilai memiliki potensi untuk memperluas penyaluran gas bumi langsung ke rumah tangga melalui jaringan pipa.

Tampilkan Gambar Gambar dari jatimmandiri.id

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, pemanfaatan jargas tidak hanya memberi kemudahan akses energi, tetapi juga membantu menekan pengeluaran rumah tangga. Berdasarkan pemanfaatan yang sudah berjalan, penggunaan jargas mampu memberikan penghematan biaya energi masyarakat hingga sekitar 45 persen.

“Dengan total volume gas bumi yang sudah dimanfaatkan kurang lebih baru 55 persen dari total alokasi, dan dari sisi penggunaan gas bumi ternyata dapat memberikan efisiensi hampir 45 persen,” ujar Wahyudi dalam Bimbingan Teknis dan Penyebarluasan Informasi mengenai Pengaturan serta Pengawasan Gas Bumi Melalui Pipa di Bojonegoro, Sabtu (8/08).

Saat ini jargas telah beroperasi di Kecamatan Bojonegoro, Ngasem dan Gayam. Pengembangannya dapat dilakukan melalui pembiayaan APBN, dukungan APBD maupun pengembangan mandiri oleh PT PGN.

Anggota Komisi XII DPR RI Ratna Juwita Sari menyebut sebanyak 16.200 sambungan jargas telah terpasang di Bojonegoro. Ia berharap jumlah tersebut terus bertambah sehingga manfaat gas bumi bisa dirasakan lebih banyak masyarakat.

“Kami mewakili masyarakat Bojonegoro, mohon dukungannya supaya bisa ditambah lagi sambungan jargas dan bisa membantu perekonomian masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara umum,” kata Ratna.

Manfaat jargas juga dirasakan langsung pelanggan. Suharsini, 54, warga pengguna jargas rumah tangga, mengaku tidak lagi khawatir mencari tabung LPG ketika terjadi kelangkaan.

Baca Juga  Warga Serbu Pasar Murah

“Satu hari itu saya lima kali memasak air panas, dan kita nggak usah bingung cari gas (tabung) kalau ada kelangkaan,” ujarnya.

Bukan hanya kebutuhan rumah tangga. Jargas juga mulai dimanfaatkan pelaku usaha mikro. Dwi Merawati, 46, mengaku pengeluaran usahanya berkisar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per bulan setelah menggunakan jaringan gas.

Penghematan lebih besar dirasakan Ahmad Arief Mardianto, 48, pelanggan kecil sebuah restoran cepat saji. Sebelum menggunakan jargas, biaya gas usahanya mencapai rata-rata Rp8,3 juta per bulan. Setelah beralih ke jargas, pengeluaran turun menjadi sekitar Rp5,5 juta.

“Dulu pakai gas tabung pengeluaran rata-rata Rp8,3 juta, setelah pakai jargas dengan harga per meter kubik Rp10 ribu, kita bisa saving dengan per bulan habis rata-rata Rp5,5 juta,” ungkapnya.

Bagi Bojonegoro, perluasan jargas bukan sekadar soal mengganti bahan bakar. Pemanfaatan gas bumi dari daerah penghasil migas secara langsung juga menjadi bagian dari upaya menekan biaya energi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *